Social Icons

Pages

Senin, 22 Oktober 2012


1.                  Salah satu kajian konseptual Teknologi Pendidikan adalah mempermudah orang belajar. Jelaskan konsep tersebut secara filosofi.  Berikan satu contoh!

Dalam mendefinisikan teknologi pembelajaran untuk mempermudah materi ajar, ada beberapa pendapat diantaranya adalah:
Yang pertama, teknologi pembelajaran adalah penerapan secara sistematik strategi dan teknik yang diambil dari konsep ilmu perilaku dan ilmu yang bersifat fisik, serta pengetahuan lain untuk keperluan pemecahan masalah pembelajaran. (Hamzah B.  2009: 50)
Yang kedua, teknologi pembelajaran adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem – sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia.
Yang ketiga, teknologi pembelajaran adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan, penerapan, metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan alat – alat komunikasi modern, juga tanpa alat – alat itu.[ Nasution.2008:1]

Yang keempat, suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh seorang pendidik dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik menggunakan alat media atau disebut hardware maupun yang lebih penting dari itu yaitu software, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.[ Mohammad Arif AM. 2010:8]

Yang kelima, teknologi pembelajaran adalah suatu komunikasi yang sangat pesat yang dimanfaatkan dalam pendidikan, adapun dalam berkomunikasi yang diutamaka adalah media komunikasi yang berupa alat – alat teknologi atau disebut hardware.

Yang keenam, menurut Prof. Dr. Hadi Miarso bahwa teknologi berasal dari kata techne yang artinya adalah seni, cara, metode dan kreatifitas yang ditempuh oleh seorang pendidik dalam mentrasfer pengetahuan kepada peserta didik. Dalam kata lain bahwa seorang guru harus mempunyai cara – cara ataupun keahliannya dalam mendidik peserta didik.

Dari beberapa definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terknologi pembelajaran PAK adalah suatu cara atau metode yang sistematis yang diharapkan nantinya peserta didik dapat menerima materi pendidikan agama Kristen dengan lebih baik, dengan rasa senang dan tanpa ada paksaan.
Teknologi pembelajaran merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi serta pengelolaan cara – cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi belajar yang memiliki tujuan dan disengaja.

2. Fungsi Teknologi Pembelajaran PAK
Berikut ini adalah beberapa fungsi dari teknologi pembelajaran PAK sebagai berikut:
·                     Sebagai sarana bahan ajar yang ilmiah dan obyektif.
·                     Sebagai sarana untuk memotifasi peserta didik yang semangat belajarnya rendah.
·                     Sebagai sarana untuk membantu peserta didik mempresentasikan apa yang mereka ketahui
·                     Sebagai sarana untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.
·                     Sebagai sarana mempermudah penyampaian materi.
·                     Sebagai sarana untuk mempermudah desain pembelajaran.
·                     Sebagai media pendukung pelajaran dengan mudah
·                     Sebagai sarana pendukung terlaksananya program pembelajaran yang sistematis
·                     Sebagai sarana meningkatkan keberhasilan pembelajaran.
3. Manfaat Teknologi Pembelajaran PAK
Mengenai manfaat teknologi pembelajaran PAK sangatlah banyak dan hal ini tergantung dari siapa yang memanfaatkannya. Berikut adalah beberapa manfaat dari teknologi pembelajaran PAK bagi pendidik dan peserta didik:

Manfaat bagi pendidik
·                     Pendidik dapat lebih memudahkan tercapainya tujuan pendidikan.
·                     Pendidik dapat mempermudah desain pembelajaran.
·                     Pendidik dapat menunjang metode pembelajaran.
·                     Pendidik dapat lebih meningkatkan efektifitas Pembelajaran.
·                     Pendidik lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran.
·                     Pendidik dapat mengefisiensikan waktu.
·                     Dapat menjadi daya dukung pengajaran seorang pendidik.

Manfaat bagi peserta didik
·                     Peserta didik dapat lebih cepat menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh pendidik.
·                     Peserta didik menerima materi pembelajaran dengan senang.
·                     Peserta didik dapat mempresentasikan apa yang mereka ketahui.
·                     Peserta didik tidak bosan dengan cara penyampaian materi pembelajaran secara verbal.
·                     Peserta didik lebih bisa berekspresi dalam proses pembelajaran.
satu contoh,
            Untuk materi ajar “melayani terhadap agama lain di kelas V SD” maka tenaga pendidik dapat menggunakan media audio visual atau video yang menayangkan bagaimana hidup rukun antar sesama pemeluk agama yang berbeda keyakinan, sehingga peserta didik memahami dan dapat melaksanakan hidup rukun di tengah-tengah masyarakat yang pluralis dan majemuk.

2.                  Sebutkan pengertian dan ciri-ciri sistem. mengapa proses instruksional dapat dipandang sebagai suatu sistem ? Bila suatu sistem diharapkan berfungsi dengan baik?

Definisi Sistem
Terdapat dua kelompok pendekatan didalam mendefinisikan sistem, yaitu yang  menekankan  pada  prosedurnya  dan  yang  menekankan  pada  komponen  atau elemennya.  Pendekatan  sistem  yang  lebih  menekankan  pada  prosedur  mendefinisikan sistem sebagai berikut ini :
Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling  berhubungan,  berkumpul  bersama-sama  untuk  melakukan    suatu  kegiatan  atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu  Menurut  Jerry  Fitzgerald,  Ardra  F.  Fitzgerald  dan  Warren  D.  Stallings,  Jr., mendefinisikan prosedur sebagai berikut : Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi yang  menerangkan  Apa  (What)  yang  harus  dikerjakan,  Siapa  (Who)  yang mengerjakannya,  Kapan  (When)  dikerjakan  dan  Bagaimana  (How) mengerjakannya  Pendekatan  sistem  yang  lebih  menekankan  pada  elemen  atau  komponennya mendefiniskan sistem sebagai berikut ini : Sistem  adalah  kumpulan  dari  elemen-elemen  yang  berinteraksi  untuk  mencapai suatu tujuan tertentu.
Secara lebih rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem, adalah:
1. Adanya tujuan:
Setiap rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentu­kan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok ukur pemilihan kompo­nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng­arah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu sistem.
2. Adanya komponen sistem (selain tujuan):
Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.
3. Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem:
Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang keseluruhan­nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia ber­jalan secara sehat dan semestinya. Penyelenggaraan pengajaran di sekolah merupakan suatu sis­tem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi tertentu itu mesti menyumbang secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan dan semua fungsi tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya: fungsi komponen yang berstatus guru adalah pem­bimbing belajar siswa (pendorong motivasi belajar siswa, peng­arah, pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai nara sumber (fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil belajar siswa, dsb.); jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat membantu kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.
4. Adanya interaksi antar komponen:
Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kri­tis, dan koordinatif banyak membantu guru dalam mengem­bangkan kariernya.
Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik:
Fungsi dari setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem. Dalam sistem pengajaran yang berinti pada interaksi personal, peran dari komponen-komponen (selain guru dan siswa) adalah untuk meningkatkan nilai inter­aksi personal tersebut demi keberhasilan belajar siswa. Transfor­masi yang terjadi dalam interaksi guru-siswa secara lebih teknis merupakan transaksi pesan-pesan (pemahaman -> penginte­grasian -> pengembangan diri).
Proses Instruksional dapat dipandang sebagai suatu sistem karena Kegiatan pokok bagi para pengembang sistem dan disain instruksional meliputi:
1.                  Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur (learning outcomes).
2.                  Identifikasi karakteristik siswa yang akan belajar.
3.                  Berdasar 1 dan 2 tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.
4.                  Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
5.                  Menentukan situasi dan kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang sebagai salah satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
6.                  Menentukan kriteria, seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
7.                  Memilih metode yang tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan tingkah laku seperti tersebut pada angka 1.
8.                  Menentukan metode untuk memonitor responsi siswa- sewaktu
9.                  Berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
10.              Mengadakan perbaikan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.

3.                  Jelaskan bagaimana aplikasi konsep , prinsip, prosedur, dan bidang garapan teknologi pendidikan dalam desain dan pengembangan pembelajaran.
a.                  Konsep Teknologi
1.                  Paradigma yang dikemukakan tentang Teknologi pada kajian Teknologi Pendidikan tidak mengambil konsep bahwa teknologi adalah suatu mesin atau sekedar alat membantu melakukan sesuatu. Finn menyatakan “selain diartikan sebagai mesin, teknologi dapat mencakup proses, system, manajemen, dan mekanisme pantauan baik manusia itu sendiri atau bukan, serta secara luas, cara pandang terhadap masalah berikut lingkupnya, tingkat kesukaran, studi kelayakan, serta cara mengatasi masalah secara teknis dan ekonomis”. Teknologi dapat mengkatalisasi berbagai perubahan lain dalam isi, metode, dan semua kualitas proses mengajar dan belajar, sebagian kebanyakan mencetuskan berubahnya cara dari pengajar yang mengendalikan pembelajaran dan terhadap konstruktivis, orientasi kelas inquiry. Heinich, Molenda, dan Russel, 1993 (Salma, 2007:43) mengemukakan “teknologi merupakan penerapan pengetahuan atau cara berpikir bukan hanya produk seperti computer, satelit, dan sebagainya”.
2.                  Berdasarkan pendapat diatas konsep teknologi dapat disimpulkan merupakan suatu teknik atau proses, penerapan pengetahuan, tidak sekedar penggunaan mesin dalam rangka memcahkan masalah yang efektif dan efisien.
b.                  Konsep Teknologi Pendidikan
1.                  Ada beberpa pendapat tentang apa yang dimaksud dengan teknologi pendidikan. Istilah yang digunakan dalam bahasa inggris adalah instructional  technologi atau educational technologi. Salah satu pendapat ialah bahwa ialah bahwa instructional technology means the media born of communications  revolution hich can be used for instructional purpose alongside the teacher, the  book and the blackboard (Commission on instructional Tehnologi dalam norman Beswick, resousce-Based Learning, 1997 hal 39). jadi yang diutamakan ialah media komunikasi yang berkembang secara pesat sekali yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan, alat-alat teknologi ini sering disebut “hardwere” antaralain TV,radio,Video, Teve, Komputer dan lain-lain. (Nasution, 2010, hal. 1.)
2                    Definisi awal Teknologi Pendidikan adalah komunikasi audiovisual. Ely (1963) mengemukakan Audiovisual communication is that branch of educational theory and practice primarily concerned with the design and use of messages, which control the learning process.”Audiovisual adalah cabang teori pendidikan dan praktik utama terfokus dengan perancangan dan penggunaan pesan, dimana mengatur proses pembelajaran.  Konsep ini umumnya memandang Teknologi Pendidikan sebagai sinonim dengan pengajaran dan komunikasi audiovisual.
3                    Mengigat bahwa objek teknologi pendidikan  adalah belajar  pada manusia maka akhir-akhir ini  istilah “Teknologi Pendidikan”  cendrung digantikan dengan “teknologi pembelajaran”. Pengantian istilah itu juga sekaligus memperluas kawasan penerapan. Yaitu tidak hanya lembaga pendidikan formal malaikan dimana saja belajar itu   diperlukan  dan berlansung termasuk organisasi belajar. (Yusuf Miarso, 2009 : 168)
4                    AECT membentuk suatu komisi defenisi  dan terminology  pada tahun 1990 yang dipimpin oleh berbara B, Seels dengan 21 orang anggota. Setelah bekerja selama 3 tahun, komisi ini merumuskan defenisi  dan terminology  baru yang merupakan   defenisi kelima  tahun 1994 adalah sebagai berikut : “Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek  dalam desain, pengembangan , femanfaatan, pengelolaan  serta penilaian  proses dan sumber untuk belajar (Yusufhadi Miarso, 2009 : 134-140
5                    Ilmu teknologi pendidikan telah berkembang sepanjang bidang dimiliki yang masing-masing. Oleh karena itu konsep teknologi pendidikan harus dikembangkan, terangkum dalam waktu dan bidang apapun. Teknologi Pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu konsep atau sebagai bidang praktik atau garapan.
c.                   Kawasan Teknologi Pembelajaran
1                    Teknologi pendidikan tidak hanya sekedar menyangkut mesin-mesin  yang dipergunakan dalam pendidikan dan pelatihan, tetapi merupakan proses yang ada hubunganya dengan kegiatan belajar – mengajar. Lebih dari itu teknologi pendidikan merupakan teori tentang tindak belajar manusia dari sekala aspek. Pemecahan masalah  secara teknologi pendidikan menyangkut segala macam sumber belajar, baik yang direncanakan dan dipilih  maupun yang dimanfaatkan untuk menimbulkan kegiatan belajar. Nana Sudjana, 1997 : 51)
d. Bidang Garapan Teknologi Pendidikan dalam desain dan pengembangan pembelajaran
(Yusufhadi Miarso, 2009 : hal 168) menyatakan  dapat dilihat enam kawasan teknologi pendidikan/pembelajaran  yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan system belajar bidang garapan atau disebut pula praktek teknologi pendidikan meliputi segala sesuatu dimana ada masalah belajar yang perlu dipecahkan. (Miarso, 2009).  Mereka yang berprofesi atau bergerak dalam bidang teknologi pendidikan atau singkatnya disebut Teknolog Pendidikan, harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan tugas profesionalnya yang utama yaitu terselenggaranya proses belajar bagi setiap orang, dengan dikembangkan dan digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan karakteristik masing-masing pebelajar (learners) serta perkembangan lingkungan. Karena lingkungan itu senantiasa berubah, maka para Teknolog Pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan atau perubahan itu, dan oleh karena itu ia dtuntut untuk selalu mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, termasuk selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. (Miarso, 2009)
Belajar  tidak hanya berlansung dalam lingkungan sekolah ataupun pelatihan. Belajar itu ada dimana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja sesuai dengan kondisi dan keperluan. (Miorso, 2009, hal : 62)











4.  Berikan contoh permasalahan pembelajaran  dan jelaskan prosedur pemecahan masalah.

Contoh  Masalah minat Belajar siswa
Kesulitan belajar  merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.

Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :

Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
• Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya ).
• Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), sepertimenampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
• Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
• Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari

a). Sekolah, antara lain :

Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
, Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru), Metode mengajar yang kurang memadai, Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

b). Keluarga (rumah), antara lain :

Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.
Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya , Keadaan ekonomi.
Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.

Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.

Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah :
1) Identifikasi masalah siswa, 2) Diagnosa, 3) Prognosa, 4) Pemberian Bantuan, 5) Follow up (tindak lanjut)
1. Identifikasi Masalah Siswa
Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali" dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.

2. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.

3. Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya.

4. Pemberian Bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.


Langkah-langkah bimbingan belajar:
1. Mengenal siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan menggunakan norma atau ukuran kriteria tertentu.
2. Mencari sebab-sebab siswa mendapat kesulitan.
3. Mencari usaha untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan itu.
4. Mengadakan pencegahan supaya kesulitan yang dialami seseorang tidak menular kepada yang lain (Sutijono, S, 1991 : 49).
Jika permasalahan siswa tidak segera ditemukan solusinya, siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar (S. Sucitae, 1972 : 2).

5. Tindak Lanjut
Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
(a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning disabilities.
Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
d. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
e. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.

Menurut Burton bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).

2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.

3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.

Upaya-Upaya Penanggulangan Masalah Belajar
1. Perhatikan Mood,Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal. Jika belajar dalam suasana hati yang senang, maka apa yang akan dipelajari lebih cepat ditangkap. Bila saat belajar, ia merasa kesal, coba untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa kesal itu. Apakah karena pelajaran yang sulit atau karena konsentrasi yang pecah. Nah di sini tugas orangtua untuk menyenangkan hati si anak.
2. Siapkan Ruang Belajar, Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba sediakan tempat belajar untuk anak. Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik. Misalnya bercerita kepada anak tentang bagaimana dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit. Biasanya anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang.
3. Komunikasi, Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas.
Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. Jika, anak Anda aktif maka banyak sekali cerita yang lahir termasuk bagaimana guru kelas memperhatikan baju, ikat rambut, dan sepatunya. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya.
 4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
a) Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi
b) Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c) Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d) Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list
e) Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).

5.  Uraikanlah aplikasi praktis  teknologi pendidikan dan pengaruhnya terhadap tingkat pengambilan keputusan dan kelembagaan pendidikan
APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Aplikasi teknologi pendidikan yang paling mendasar, dan yang secara tegas dinyatakan, adalah menyediakan dan melaksanakan pemecahan masalah dalam memberikan kemungkinan belajar. Berdasarkan kerangka teoritis yang telah dibahas sebelumnya, pemecahan ini berbentuk sumber belajar. Sumber ini baik yang sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan –merupakan produk konkrit yang tersedia untuk berinteraksi dengan si-belajar. Produk ini merupakan bukti penerapan teknologi pendidikan yang paling jelas.
Fungsi-fungsi pengelolaan dan pengembangan juga merupakan bukti penerapan praktis teknologi pendidikan. Masing-masing fungsi tersebut mempunyai kegiatan dan hasil khusus, yang dapat diukur dan dilihat. Dengan demikian orang dapat melihat seseorang yang sedang melakukan penilaian kebutuhan, memproduksi film, mengkatalogkan bahan-ajaran, berinteraksi dengan si belajar, mengelola orang lain dan sebagainya Kegiatan nyata dari kegiatan tersebut yang membuahkan hasil, juga merupakan bukti bahwa teknologi telah diaplikasikan dalam pendidikan.
PENGARUH TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENDIDIKAN.
Menurut pengamatan Heinich (1970) aplikasi teknologi pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap keputusan yang diambil mengenai proses khusus pedidikan. Aplikasi itu membawa dampak pada siapa yang memutuaskan isi yang diajarkan; pemilihan isi serta tingkat standardisasinya; kuantitas dan kualitas sumber yang disediakan; siapa yang merancang sumber belajar dan bagaimana caranya, serta siapa dan bagaimana memproduksinya sumber belajar itu; siapa dan bagaimana mengevaluasi pembelajaran; siapa dan bagaimana berinteraksi dengan si-belajar; siapa dan bagaimana menilai perbuatan si-belajar.
Penetapan isi
Secara tradisional isi yang bersifat umum ditentukan oleh komisi-kurikulum atau coordinator wilayah persekolahan (school Districts di Amerika Serikat) . pelaksanaannya secara khusus dilakukan oleh para guru atau instruktur perorangan. Teknologi pendidikan mengalihkan penetapan isi kepada tim ahli yang dikoordinasikan oleh institusi pendidikan pusat.
Dengan ditetapkannya isi mata pelajaran oleh tim dari ahli bidang studi, pengembang instruksional dan produser, maka peranan komisi kurikulum local dan instruktur perorangan akan berubah menjadi memilih, dan bukannya menetapkan isi mata pelajaran.
Standardisasi dan Pilihan
Menurut Finn(1966; 49) mengatakan,”Salah satu kecenderungan kuat di masa mendatang adalah gerakan umum ke arah satndardisasi…”. Ramalan ini mulai terbukti meskipun tidak secepat yang diperkirakan. Dengan demikian meningkatnya pemanfaatan program media, makin banyak lembaga-lembaga yang menawarkan program pembelajaran yang sama, padahal lembaga tersebut tersebar di berbagai daerah dengan kebutuhan local dan filsafat yang berbeda. Di wilayah Chicago saja misalnya, terdapat paling sedikit lima Universitas yang menawarkan program The Ascent of Man sebagai mata kuliah yang mempunyai beban kredit. Dan mungkin mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh kesepakatan isi mata kuliah bila mereka diminta menentukan sendiri. Tetapi dengan tersedianya program media pembelajaran dengan format standar yang disiarkan oleh Public Broadcasting System, ke lima lembaga tersebut menawarkan kuliah yang intinya –isi maupun penyajiannya sama.
Dengan standardisasi tidak berarti bahwa semua lembaga akan menawarkan mata kuliah yang sama. Dengan makin banyaknya dikembangkan program pembelajaran bermedia, khususnya dengan tersedianya berbagai pelajaran dalam subyek yang sama, lembaga-lembaga itu akan mempunyai banyak pilihan. Sebagai contoh “The Biological science -curiculum Study (BSCS),” yang menyadari adanya berbagai macam pendekatan dalam pengajaran biologi, memproduksikan berbagai pelajaran yang masing-masing menggunakan pendekatan yang berbeda setiap lembaga. Jadi, sejalan dengan standardisasi pembelajaran timbul kecenderungan untuk memilih program pembelajaran yang terstandardisasikan.
Kuantitas dan Kualitas
Pilihan yang tersedia bagi wilayah, lembaga, guru/dosen menjadi lebih sedikit apabila program pembelajaran bermedia dipergunkan. Hal ini terjadi karena jumlah pelajaran bermedia mengenai subyek yang sama, akan lebih sedikit dibandingkan jumlah pelajaran tradisional atau yang diajarkan guru . ini berarti jumlah pelajaran yang tersedia menjadi berkurang . dengan mempertimbangkan terbatasnya waktu yang tersedia, keahlian dan biaya yang diperlukan untuk memproduksi pembelajaran bermedia, serta jumlah siswa yang harus dilayani agar pembelajaran itu efektif ditinjau dari segi biaya, maka jumlah media yang diproduksi tidak akan sebanyak bila program itu dibuat oleh masing-masing wilayah atau guru/dosen.
Akan tetapi menurunnya kuantitas ini akan diimbangi dengan peningkatan kualitas. Dengan diproduksikannya program pembelajaran bermedia oleh tim ahli bidang studi, pengembangan instruksional dan produser khusus serta dengan waktu dan dana khusus yang tersedia, maka tentunya hasil produksi itu akan lebih baik ditinjau dari kualitas, bila dibanding dengan hasil produksi guru secara perorangan dengan sumber dana yang terbaas.
Rancangan Pembelajaran
Orang-orang yang melaksanakan kegiatan merancang serta teknik yang dipergunakannya, akan mengalami perubahan dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam paradigma tradisional “guru kelas saja”, kegiatan merancang pembelajaran dilakukan oleh seorang dengan menggunakan metode perencanaan pelajaran yang tradisional, di mana buku teks merupakan sumber belajar utama dan kadang-kadang dipergunakan “alat Bantu audiovisual “sebagai pelengkap. Sedangkan rancangan pembelajaran bermedia biasanya dilakukan oleh seorang ahli dalam proses pengembangan instruksional, termasuk didalamnya kegiatan menilai kebutuhan, analisis siswa, analisis perbuatan, analisis isi, penyusunan tujuan perilaku dan tes acuan standar, pentahapan pembelajaran, pemilihan sumber belajar secara sistematis, dan pengembangan spesifikasi untuk sumber belajar yang efektif. Di sini terjadi pergeseran dari ahli merancang yang dasar spesialisasi bidang studi, ke ahli merancang yang khusus dilatih dalam metode pengembangan instruksional. Proses yang dipakai oleh ahli tersebut akhir ini, adalah proses pengembangan instruksional yang sistematik, dan bukan sekedar pendekatan intuitif yang kebanyakan dipakai guru/dosen.
Produksi Bahan Pelajaran
Pembelajaran bermedia akan mengubah pula orang-orang yang melaksanakan kegiatan produksi, serta teknik maupun kualitas produksi mereka. Sumber belajar yang secara sederhana diproduksikan oleh instruktur, akan tersisih oleh unit pembelajaran bermedia yang dikerjakan oleh spesialis produksi berbagai media seperti: audio, foto, film dan televisi. Mereka ini menggunakan teknik produksi dan peralatan yang piawai. Pendidikan mereka berbeda dengan pendidikan guru/dosen, yaitu bukan sekedar isi ajaran, melainkan juga mempelajari teknik dan penggunaan peralatan.
Evaluasi Pembelajaran
Dalam teknologi pendidikan, khususnya program media, fungsi evaluasi menduduki peranan utama. Evaluasi pembelajaran dilakukan baik pada tahap pengembangan maupun dalam tahap pemanfaatannya, dalam rangka menentukan efektivias dan mengidentifikasikan bagian-bagian yang memerlukan penyempurnaan .


Interaksi Dengan Si-belajar
Tujuan serta orang yang melaksanakan kegiatan dalam fungsi pemanfaatan, akan berubah secara radikal dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam pembelajaran tradisional, instruktur secara langsung berinteraksi dengan si-belajar. Dalam pembelajaran bermedia, tugas menyajikan informasi khususnya, dilakukan oleh sumber belajar lain yang bukan orang secara langsung. Peranan interaksi yang dilakukan dengan si-belajar, pertama-tama adalah untuk membantu perkembangan emosi dan sosial mereka. Kemungkinan interaksi yang kedua adalah untuk tutorial yaitu memberikan bantuan remedial bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dari media. Orang-orang yang melakukan kedua peran tersebut berbeda dengan guru kelas yang sekarang.
Pengukuran Belajar
Aspek kedua yang berubah karena pembelajaran bermedia adalah pengukuran atas diri si-belajar. Secara tradisional, para gurulah yang melakukan pengukuran apakah siswa telah mencapai tujuan belajar atau belum. Pengukuran itu dilakukan dengan menggunakan metode yang tidak piawai, misalnya dengan menggunakan tes pilihan ganda, makalah, dan proyek.. seringkali tes-tes tersebut dianggap sebagai bagian terpisah dan berlainan dari pembelajaran. Seringkali tes tersebut tidak didasarkan pada tujuan intruksional khusus. Dengan pembelajaran bermedia, teknik mengukur prestasi siswa menjadi bagian dari pembelajaran. Tes bukan merupakan tambahan, melainkan bagian integral dari pembelajaran. Acapkali hasil tes menentukan apakah siswa memerlukan pembelajaran remedial atau tidak, sebelum siswa yang bersangkutan melanjutkan pelajaran yang berikutnya. Dengan demikian pengembangan alat-alat pengukuran menjadi bagian dari pengembangan bahan pembelajaran, dan dilaksanakan oleh ahli bidang studi dan para pengembang instruksional yang merancang pembelajaran.
Secara tradisional, guru merupakan orang yang memeriksa tes. Akan tetapi dalam pembelajaran bermedia, pengukuran belajar siswa mungkin dilaksanakan para juru tulis atau pengukur lain yang diberi tugas khusus. Mereka melaksanakan koreksi jawaban tes dengan pedoman kunci jawaban yang disusun oleh perancang ajaran.

Peran Guru dan Sistem Sekolah
Hasil dari seluruh penerapan praktis dimuka, menurut Finn, menyebabkan,”kemungkinan untuk tidak meniadakan guru, melainkan juga system sekolah (1960; 16). Pendapat ini sangat ekstrim, namun berhasil mengungkap suatu kenyataan bahwa dengan diplikasikannya teknologi pendidikan maka peranan guru dan system sekolah akan berubah dengan sangat drastis. System sekolah akan berhadapan dengan berbagai alternative kelembagaan yang memberikan kemungkinan terjadi belajar. Demikian juga peranan tradisional guru dalam menentukan isi, merancang dan memproduksi pembelajaran, interaksi dengan dan pengukuran siswa
Aplikasi teknologi pendidikan pada sumber dan fungsi mengandung pengertian bahwa teknologi pendidikan menyediakan, melaksanakan pemecahan masalah , serta mencakup fungsi-fungsi pengelolaan dan pengembangan sumber belajar .Oleh karenanya kehadiran teknologi pendidikan sangat penting dalam pendidikan .
Dampak aplikasi teknologi pendidikan sangat berpengaruh pada struktur organisasi pendidikan . Hal itu akan berpengaruh pada tiga hal yaitu : mengubah tingkat pengambilan keputusan, menciptakan pola interaksional baru, dan memungkinkan adanya bentuk alternative lembaga pendidikan .
Aplikasi teknologi pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap keputusan yang diambil mengenai suatu proses pendidikan, terutama dalam memutuskan isi yang diajarkan, pemilihan isi serta tingkat standardisasinya, kuantitas dan kualitas sumber yang disediakan, rancangan sumber belajar dan yang memproduksinya, evalusi pembelajarannya beserta prosesnya.







UJIAN FINAL SEMESTER I TAHUN AJAR 2012/2013

D
I
K
E
R
J
A
K
A
N


O
L
E
H

                                    NAMA                              :     ARTHUR SIMANUNGKALIT
                                    NPM                                 :     150.1.11.002
                                    MATA KULIAH             :     TEKNOLOGI  PEMBELAJARAN PAK
TANGGAL                      :     29 september 2012
WAKTU                          :     TAKE HOME
DOSEN                             :     PROF. Dr.EFENDI NAPITUPULUH, M.Pd



SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN NEGERI (STAKPN)
TARUTUNG
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar