1.
Salah
satu kajian konseptual Teknologi Pendidikan adalah mempermudah orang belajar. Jelaskan konsep tersebut
secara filosofi. Berikan satu contoh!
Dalam
mendefinisikan teknologi pembelajaran untuk mempermudah materi ajar, ada
beberapa pendapat diantaranya adalah:
Yang
pertama, teknologi pembelajaran adalah penerapan secara sistematik strategi dan
teknik yang diambil dari konsep ilmu perilaku dan ilmu yang bersifat fisik,
serta pengetahuan lain untuk keperluan pemecahan masalah pembelajaran. (Hamzah
B. 2009: 50)
Yang kedua,
teknologi pembelajaran adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem –
sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar
manusia.
Yang ketiga,
teknologi pembelajaran adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan,
penerapan, metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan
alat – alat komunikasi modern, juga tanpa alat – alat itu.[ Nasution.2008:1]
Yang
keempat, suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh seorang pendidik
dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik
menggunakan alat media atau disebut hardware maupun yang lebih penting dari itu
yaitu software, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima
materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.[
Mohammad Arif AM. 2010:8]
Yang kelima,
teknologi pembelajaran adalah suatu komunikasi yang sangat pesat yang
dimanfaatkan dalam pendidikan, adapun dalam berkomunikasi yang diutamaka adalah
media komunikasi yang berupa alat – alat teknologi atau disebut hardware.
Yang keenam,
menurut Prof. Dr. Hadi Miarso bahwa teknologi berasal dari kata techne yang
artinya adalah seni, cara, metode dan kreatifitas yang ditempuh oleh seorang
pendidik dalam mentrasfer pengetahuan kepada peserta didik. Dalam kata lain
bahwa seorang guru harus mempunyai cara – cara ataupun keahliannya dalam
mendidik peserta didik.
Dari
beberapa definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terknologi
pembelajaran PAK adalah suatu cara atau metode yang sistematis yang diharapkan
nantinya peserta didik dapat menerima materi pendidikan agama Kristen dengan lebih baik, dengan rasa senang dan tanpa ada
paksaan.
Teknologi pembelajaran
merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Hal ini didasarkan pada konsep
bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Teknologi pengajaran merupakan
satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur,
gagasan, peralatan dan organisasi serta pengelolaan cara – cara pemecahan
masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi belajar yang memiliki tujuan
dan disengaja.
2. Fungsi
Teknologi Pembelajaran PAK
Berikut ini
adalah beberapa fungsi dari teknologi pembelajaran PAK sebagai berikut:
·
Sebagai sarana bahan ajar yang
ilmiah dan obyektif.
·
Sebagai sarana untuk memotifasi
peserta didik yang semangat belajarnya rendah.
·
Sebagai sarana untuk membantu
peserta didik mempresentasikan apa yang mereka ketahui
·
Sebagai sarana untuk meningkatkan
efektifitas pembelajaran.
·
Sebagai sarana mempermudah
penyampaian materi.
·
Sebagai sarana untuk mempermudah
desain pembelajaran.
·
Sebagai media pendukung pelajaran
dengan mudah
·
Sebagai sarana pendukung
terlaksananya program pembelajaran yang sistematis
·
Sebagai sarana meningkatkan
keberhasilan pembelajaran.
3. Manfaat
Teknologi Pembelajaran PAK
Mengenai
manfaat teknologi pembelajaran PAK sangatlah banyak dan hal ini tergantung dari
siapa yang memanfaatkannya. Berikut adalah beberapa manfaat dari teknologi
pembelajaran PAK bagi pendidik dan peserta didik:
Manfaat bagi
pendidik
·
Pendidik dapat lebih memudahkan
tercapainya tujuan pendidikan.
·
Pendidik dapat mempermudah desain
pembelajaran.
·
Pendidik dapat menunjang metode
pembelajaran.
·
Pendidik dapat lebih meningkatkan
efektifitas Pembelajaran.
·
Pendidik lebih mudah menyampaikan
materi pembelajaran.
·
Pendidik dapat mengefisiensikan
waktu.
·
Dapat menjadi daya dukung pengajaran
seorang pendidik.
Manfaat bagi
peserta didik
·
Peserta didik dapat lebih cepat menyerap
materi pelajaran yang diberikan oleh pendidik.
·
Peserta didik menerima materi
pembelajaran dengan senang.
·
Peserta didik dapat mempresentasikan
apa yang mereka ketahui.
·
Peserta didik tidak bosan dengan
cara penyampaian materi pembelajaran secara verbal.
·
Peserta didik lebih bisa berekspresi
dalam proses pembelajaran.
satu contoh,
Untuk materi ajar
“melayani terhadap agama lain di kelas V SD” maka tenaga pendidik dapat
menggunakan media audio visual atau video yang menayangkan bagaimana hidup
rukun antar sesama pemeluk agama yang berbeda keyakinan, sehingga peserta didik
memahami dan dapat melaksanakan hidup rukun di tengah-tengah masyarakat yang
pluralis dan majemuk.
2.
Sebutkan
pengertian dan ciri-ciri sistem. mengapa proses instruksional dapat dipandang
sebagai suatu sistem ? Bila suatu sistem diharapkan berfungsi dengan baik?
Definisi Sistem
Terdapat dua kelompok pendekatan didalam mendefinisikan
sistem, yaitu yang menekankan pada
prosedurnya dan yang
menekankan pada komponen
atau elemennya. Pendekatan sistem
yang lebih menekankan
pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai berikut ini :
Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari
prosedur-prosedur yang saling
berhubungan, berkumpul bersama-sama
untuk melakukan suatu
kegiatan atau untuk menyelesaikan
suatu sasaran yang tertentu Menurut Jerry
Fitzgerald, Ardra F.
Fitzgerald dan Warren
D. Stallings, Jr., mendefinisikan prosedur sebagai berikut
: Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi
yang menerangkan Apa
(What) yang harus
dikerjakan, Siapa (Who)
yang mengerjakannya, Kapan (When)
dikerjakan dan Bagaimana
(How) mengerjakannya
Pendekatan sistem yang
lebih menekankan pada
elemen atau komponennya mendefiniskan sistem sebagai
berikut ini : Sistem adalah kumpulan
dari elemen-elemen yang
berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Secara lebih
rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem, adalah:
1. Adanya tujuan:
Setiap
rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentukan lebih dahulu,
dan itu menjadi tolok ukur pemilihan komponen serta kegiatan dalam proses
kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu
sistem mengarah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat
orientasi dalam suatu sistem.
2. Adanya komponen sistem (selain tujuan):
Jika suatu
sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen
dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah
sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun
non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah
merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen
sistem.
3. Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja
sistem:
Tubuh kita
merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban
fungsi tertentu, yang keseluruhannya (semua fungsi komponen sistem)
dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai
manusia berjalan secara sehat dan semestinya. Penyelenggaraan pengajaran di sekolah merupakan suatu
sistem, maka setiap komponen yang mempunyai fungsi tertentu itu mesti menyumbang
secara sepantasnya dalam rangka mencapai tujuan dan semua fungsi tersebut perlu
dikoordinasikan secara terpadu agar proses pengajaran berlangsung secara
efektif dan efisien. Misalnya: fungsi komponen yang berstatus guru adalah
pembimbing belajar siswa (pendorong motivasi belajar siswa, pengarah,
pengatur (organisator) situasi belajar siswa, sebagai nara sumber
(fasilitator), bertindak sebagai penyebar kebijakan, penilai hasil belajar
siswa, dsb.); jika guru cakap menjalankan fungsinya maka akan sangat membantu
kelancaran serta keberhasilan belajar siswa, dan sebaliknya.
4. Adanya interaksi antar komponen:
Antar
komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan
saling ketergantungan. Misalnya:
keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk
dididiknya; siswa yang responsif, kritis, dan koordinatif banyak membantu guru
dalam mengemÂbangkan kariernya.
Adanya
transformasi dan sekaligus umpan balik:
Fungsi dari
setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi
sistem. Dalam sistem pengajaran yang berinti pada interaksi personal, peran
dari komponen-komponen (selain guru dan siswa) adalah untuk meningkatkan nilai
interaksi personal tersebut demi keberhasilan belajar siswa. Transformasi
yang terjadi dalam interaksi guru-siswa secara lebih teknis merupakan transaksi
pesan-pesan (pemahaman -> pengintegrasian -> pengembangan diri).
Proses
Instruksional dapat dipandang sebagai
suatu sistem karena Kegiatan
pokok bagi para pengembang sistem dan disain instruksional meliputi:
1.
Menentukan hasil
belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur (learning outcomes).
2.
Identifikasi
karakteristik siswa yang akan belajar.
3.
Berdasar 1 dan 2
tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi para
siswa.
4.
Menentukan media untuk
kegiatan tersebut.
5.
Menentukan situasi dan
kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang sebagai salah
satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
6.
Menentukan kriteria,
seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
7.
Memilih metode yang
tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan tingkah laku
seperti tersebut pada angka 1.
8.
Menentukan metode untuk
memonitor responsi siswa- sewaktu
9.
Berada dalam proses
pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
10.
Mengadakan perbaikan
yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa
tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.
3.
Jelaskan
bagaimana aplikasi konsep , prinsip, prosedur, dan bidang garapan teknologi
pendidikan dalam desain dan pengembangan pembelajaran.
a.
Konsep Teknologi
1.
Paradigma yang dikemukakan tentang Teknologi pada kajian
Teknologi Pendidikan tidak mengambil konsep bahwa teknologi
adalah suatu mesin atau sekedar alat membantu melakukan sesuatu. Finn menyatakan “selain diartikan sebagai mesin, teknologi
dapat mencakup proses, system, manajemen, dan mekanisme pantauan baik manusia
itu sendiri atau bukan, serta secara
luas, cara pandang terhadap masalah berikut lingkupnya, tingkat kesukaran,
studi kelayakan, serta cara mengatasi masalah secara teknis dan ekonomis”. Teknologi dapat mengkatalisasi berbagai perubahan lain dalam isi, metode, dan
semua kualitas proses mengajar dan belajar, sebagian kebanyakan mencetuskan
berubahnya cara dari pengajar yang mengendalikan pembelajaran dan terhadap
konstruktivis, orientasi kelas inquiry. Heinich, Molenda, dan Russel, 1993
(Salma, 2007:43) mengemukakan “teknologi merupakan penerapan pengetahuan atau
cara berpikir bukan hanya produk seperti computer, satelit, dan sebagainya”.
2.
Berdasarkan pendapat diatas konsep
teknologi dapat disimpulkan merupakan suatu teknik atau proses, penerapan
pengetahuan, tidak sekedar penggunaan mesin dalam rangka memcahkan masalah yang
efektif dan efisien.
b.
Konsep Teknologi Pendidikan
1.
Ada beberpa pendapat tentang apa yang dimaksud dengan
teknologi pendidikan. Istilah yang digunakan dalam bahasa inggris adalah instructional technologi atau educational technologi. Salah satu pendapat ialah bahwa ialah bahwa
instructional technology means the media
born of communications revolution hich
can be used for instructional purpose alongside the teacher, the book and the blackboard (Commission on
instructional Tehnologi dalam norman Beswick, resousce-Based Learning, 1997 hal
39). jadi yang diutamakan ialah media komunikasi yang berkembang secara pesat
sekali yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan, alat-alat teknologi ini sering
disebut “hardwere” antaralain TV,radio,Video, Teve, Komputer dan lain-lain.
(Nasution, 2010, hal. 1.)
2
Definisi awal Teknologi Pendidikan adalah komunikasi
audiovisual. Ely (1963) mengemukakan “Audiovisual communication is that branch of
educational theory and practice primarily concerned with the design and use of
messages, which control the learning process.”Audiovisual adalah cabang
teori pendidikan dan praktik utama terfokus dengan perancangan dan penggunaan
pesan, dimana mengatur proses pembelajaran. Konsep ini umumnya memandang Teknologi
Pendidikan sebagai sinonim dengan pengajaran dan komunikasi audiovisual.
3
Mengigat bahwa objek teknologi
pendidikan adalah belajar pada manusia maka akhir-akhir ini istilah “Teknologi Pendidikan” cendrung digantikan dengan “teknologi pembelajaran”.
Pengantian istilah itu juga sekaligus memperluas kawasan penerapan. Yaitu tidak
hanya lembaga pendidikan formal malaikan dimana saja belajar itu diperlukan
dan berlansung termasuk organisasi belajar. (Yusuf Miarso, 2009 : 168)
4
AECT membentuk suatu komisi
defenisi dan terminology pada tahun 1990 yang dipimpin oleh berbara B,
Seels dengan 21 orang anggota. Setelah bekerja selama 3 tahun, komisi ini
merumuskan defenisi dan terminology baru yang merupakan defenisi kelima tahun 1994 adalah sebagai berikut :
“Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan , femanfaatan,
pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar (Yusufhadi
Miarso, 2009 : 134-140
5
Ilmu teknologi
pendidikan telah berkembang sepanjang bidang dimiliki yang masing-masing. Oleh
karena itu konsep teknologi pendidikan harus dikembangkan, terangkum dalam
waktu dan bidang apapun. Teknologi Pendidikan
dapat didefinisikan sebagai suatu konsep atau sebagai bidang praktik atau
garapan.
c.
Kawasan Teknologi Pembelajaran
1
Teknologi pendidikan tidak hanya sekedar menyangkut mesin-mesin yang dipergunakan dalam pendidikan dan
pelatihan, tetapi merupakan proses yang ada hubunganya dengan kegiatan belajar –
mengajar. Lebih dari itu teknologi pendidikan merupakan teori tentang tindak
belajar manusia dari sekala aspek. Pemecahan masalah secara teknologi pendidikan menyangkut segala
macam sumber belajar, baik yang direncanakan dan dipilih maupun yang dimanfaatkan untuk menimbulkan
kegiatan belajar. Nana Sudjana, 1997 : 51)
d. Bidang Garapan Teknologi Pendidikan dalam desain dan
pengembangan pembelajaran
(Yusufhadi Miarso, 2009 : hal 168)
menyatakan dapat dilihat enam kawasan
teknologi pendidikan/pembelajaran yaitu desain,
pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber
dan system belajar bidang garapan atau disebut pula
praktek teknologi pendidikan meliputi segala sesuatu dimana ada masalah belajar
yang perlu dipecahkan. (Miarso, 2009). Mereka yang
berprofesi atau bergerak dalam bidang teknologi pendidikan atau singkatnya
disebut Teknolog Pendidikan, harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan tugas
profesionalnya yang utama yaitu terselenggaranya proses belajar bagi setiap orang,
dengan dikembangkan dan digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan
karakteristik masing-masing pebelajar (learners)
serta perkembangan lingkungan. Karena lingkungan itu senantiasa berubah, maka
para Teknolog Pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan atau perubahan
itu, dan oleh karena itu ia dtuntut untuk selalu mengembangkan diri sesuai
dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, termasuk selalu mengikuti
perkembangan ilmu dan teknologi. (Miarso, 2009)
Belajar tidak hanya berlansung dalam lingkungan sekolah ataupun pelatihan.
Belajar itu ada dimana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa
saja sesuai dengan kondisi dan keperluan. (Miorso, 2009, hal : 62)
4. Berikan contoh
permasalahan pembelajaran dan jelaskan
prosedur pemecahan masalah.
Contoh Masalah minat Belajar siswa
Kesulitan
belajar merupakan suatu gejala yang
nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi). Karena guru bertanggung
jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi
gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha
memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.
Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.
Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :
Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
• Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya ).
• Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), sepertimenampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
• Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
• Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari
a). Sekolah,
antara lain :
Sifat kurikulum yang kurang fleksibel, Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru), Metode mengajar yang kurang memadai, Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
b). Keluarga (rumah), antara lain :
Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya , Keadaan ekonomi.
Menurut
Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab
dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi
petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan
sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam
diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri
yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan
memiliki penilaian diri yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.
Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.
Langkah-langkah
yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah :
1)
Identifikasi masalah siswa, 2) Diagnosa, 3) Prognosa, 4) Pemberian Bantuan, 5)
Follow up (tindak lanjut)
1.
Identifikasi Masalah Siswa
Identifkasi
masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar
yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali"
dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk
menentukan masalah yang dialaminya.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.
2. Diagnosa
Diagnosa
dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah
siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta
kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari
sehingga mempengaruhi belajarnya.
3. Prognosa
Prognosa
merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami
kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan
bantuan yang dapat diberikan kepadanya.
4. Pemberian Bantuan
Bantuan yang
diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi
masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu
maupun kelompok, secara rutin.
Dari
beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu
proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa
agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang
dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan
dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri
kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat
sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.
Langkah-langkah
bimbingan belajar:
1. Mengenal
siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan menggunakan norma atau ukuran
kriteria tertentu.
2. Mencari
sebab-sebab siswa mendapat kesulitan.
3. Mencari
usaha untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan itu.
4.
Mengadakan pencegahan supaya kesulitan yang dialami seseorang tidak menular
kepada yang lain (Sutijono, S, 1991 : 49).
Jika
permasalahan siswa tidak segera ditemukan solusinya, siswa akan mengalami
kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah
prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak
dapat melanjutkan belajar (S. Sucitae, 1972 : 2).
5. Tindak
Lanjut
Tindak
lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan
atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang
telah diberikan.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
(a) learning
disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan
(e) learning disabilities.
Di bawah ini
akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning
Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang
mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi
belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang
bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi
yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras
seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam
belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning
Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak
berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan
adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis
lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan
sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih
bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan
baik.
3. Under
Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi
intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong
rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat
kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya
biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning
Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak
mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
b. Hasil
yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada
siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu
rendah
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
d.
Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang,
berpura-pura, dusta dan sebagainya.
e. Menunjukkan
perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak
mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak
mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.
Menurut Burton bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
Upaya-Upaya
Penanggulangan Masalah Belajar
1.
Perhatikan Mood,Untuk
mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar
anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal. Jika
belajar dalam suasana hati yang senang, maka apa yang akan dipelajari lebih
cepat ditangkap. Bila saat belajar, ia merasa kesal, coba untuk mencari tahu
penyebab munculnya rasa kesal itu. Apakah karena pelajaran yang sulit atau
karena konsentrasi yang pecah. Nah di sini tugas orangtua untuk menyenangkan
hati si anak.
2. Siapkan
Ruang Belajar, Kesulitan belajar anak bisa juga
karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba sediakan tempat
belajar untuk anak. Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya
dengan menularkan cara belajar yang baik. Misalnya bercerita kepada anak tentang
bagaimana dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit.
Biasanya anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba
mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang.
3.
Komunikasi, Masa kecil kita, pelajaran yang
disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri
perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar
di kelas.
Sempatkan
juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka
mengajar di sekolah. Jika, anak Anda aktif maka banyak sekali cerita yang lahir
termasuk bagaimana guru kelas memperhatikan baju, ikat rambut, dan sepatunya.
Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak
dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya.
4. Mengidentifikasi siswa
yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
a) Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi
b) Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
a) Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi
b) Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c)
Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d) Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list
e) Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).
d) Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list
e) Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).
5. Uraikanlah aplikasi praktis teknologi pendidikan dan pengaruhnya terhadap
tingkat pengambilan keputusan dan kelembagaan pendidikan
APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Aplikasi
teknologi pendidikan yang paling mendasar, dan yang secara tegas dinyatakan,
adalah menyediakan dan melaksanakan pemecahan masalah dalam memberikan
kemungkinan belajar. Berdasarkan kerangka teoritis yang telah dibahas
sebelumnya, pemecahan ini berbentuk sumber belajar. Sumber ini baik yang
sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan –merupakan
produk konkrit yang tersedia untuk berinteraksi dengan si-belajar. Produk ini
merupakan bukti penerapan teknologi pendidikan yang paling jelas.
Fungsi-fungsi
pengelolaan dan pengembangan juga merupakan bukti penerapan praktis teknologi
pendidikan. Masing-masing fungsi tersebut mempunyai kegiatan dan hasil khusus,
yang dapat diukur dan dilihat. Dengan demikian orang dapat melihat seseorang
yang sedang melakukan penilaian kebutuhan, memproduksi film, mengkatalogkan
bahan-ajaran, berinteraksi dengan si belajar, mengelola orang lain dan
sebagainya Kegiatan nyata dari kegiatan tersebut yang membuahkan hasil, juga
merupakan bukti bahwa teknologi telah diaplikasikan dalam pendidikan.
PENGARUH
TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENDIDIKAN.
Menurut
pengamatan Heinich (1970) aplikasi teknologi pendidikan secara langsung
berpengaruh terhadap keputusan yang diambil mengenai proses khusus pedidikan.
Aplikasi itu membawa dampak pada siapa yang memutuaskan isi yang diajarkan;
pemilihan isi serta tingkat standardisasinya; kuantitas dan kualitas sumber
yang disediakan; siapa yang merancang sumber belajar dan bagaimana caranya,
serta siapa dan bagaimana memproduksinya sumber belajar itu; siapa dan
bagaimana mengevaluasi pembelajaran; siapa dan bagaimana berinteraksi dengan
si-belajar; siapa dan bagaimana menilai perbuatan si-belajar.
Penetapan isi
Secara
tradisional isi yang bersifat umum ditentukan oleh komisi-kurikulum atau
coordinator wilayah persekolahan (school Districts di Amerika Serikat) .
pelaksanaannya secara khusus dilakukan oleh para guru atau instruktur
perorangan. Teknologi pendidikan mengalihkan penetapan isi kepada tim ahli yang
dikoordinasikan oleh institusi pendidikan pusat.
Dengan
ditetapkannya isi mata pelajaran oleh tim dari ahli bidang studi, pengembang
instruksional dan produser, maka peranan komisi kurikulum local dan instruktur
perorangan akan berubah menjadi memilih, dan bukannya menetapkan isi mata
pelajaran.
Standardisasi dan Pilihan
Menurut
Finn(1966; 49) mengatakan,”Salah satu kecenderungan kuat di masa mendatang
adalah gerakan umum ke arah satndardisasi…”. Ramalan ini mulai terbukti
meskipun tidak secepat yang diperkirakan. Dengan demikian meningkatnya
pemanfaatan program media, makin banyak lembaga-lembaga yang menawarkan program
pembelajaran yang sama, padahal lembaga tersebut tersebar di berbagai daerah
dengan kebutuhan local dan filsafat yang berbeda. Di wilayah Chicago saja
misalnya, terdapat paling sedikit lima Universitas yang menawarkan program The
Ascent of Man sebagai mata kuliah yang mempunyai beban kredit. Dan mungkin
mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh kesepakatan isi mata kuliah bila
mereka diminta menentukan sendiri. Tetapi dengan tersedianya program media
pembelajaran dengan format standar yang disiarkan oleh Public Broadcasting
System, ke lima lembaga tersebut menawarkan kuliah yang intinya –isi maupun
penyajiannya sama.
Dengan
standardisasi tidak berarti bahwa semua lembaga akan menawarkan mata kuliah
yang sama. Dengan makin banyaknya dikembangkan program pembelajaran bermedia,
khususnya dengan tersedianya berbagai pelajaran dalam subyek yang sama,
lembaga-lembaga itu akan mempunyai banyak pilihan. Sebagai contoh “The Biological
science -curiculum Study (BSCS),” yang menyadari adanya berbagai macam
pendekatan dalam pengajaran biologi, memproduksikan berbagai pelajaran yang
masing-masing menggunakan pendekatan yang berbeda setiap lembaga. Jadi, sejalan
dengan standardisasi pembelajaran timbul kecenderungan untuk memilih program
pembelajaran yang terstandardisasikan.
Kuantitas dan Kualitas
Pilihan yang
tersedia bagi wilayah, lembaga, guru/dosen menjadi lebih sedikit apabila
program pembelajaran bermedia dipergunkan. Hal ini terjadi karena jumlah
pelajaran bermedia mengenai subyek yang sama, akan lebih sedikit dibandingkan
jumlah pelajaran tradisional atau yang diajarkan guru . ini berarti jumlah
pelajaran yang tersedia menjadi berkurang . dengan mempertimbangkan terbatasnya
waktu yang tersedia, keahlian dan biaya yang diperlukan untuk memproduksi
pembelajaran bermedia, serta jumlah siswa yang harus dilayani agar pembelajaran
itu efektif ditinjau dari segi biaya, maka jumlah media yang diproduksi tidak
akan sebanyak bila program itu dibuat oleh masing-masing wilayah atau
guru/dosen.
Akan tetapi
menurunnya kuantitas ini akan diimbangi dengan peningkatan kualitas. Dengan
diproduksikannya program pembelajaran bermedia oleh tim ahli bidang studi,
pengembangan instruksional dan produser khusus serta dengan waktu dan dana
khusus yang tersedia, maka tentunya hasil produksi itu akan lebih baik ditinjau
dari kualitas, bila dibanding dengan hasil produksi guru secara perorangan
dengan sumber dana yang terbaas.
Rancangan Pembelajaran
Orang-orang
yang melaksanakan kegiatan merancang serta teknik yang dipergunakannya, akan
mengalami perubahan dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam paradigma
tradisional “guru kelas saja”, kegiatan merancang pembelajaran dilakukan oleh
seorang dengan menggunakan metode perencanaan pelajaran yang tradisional, di
mana buku teks merupakan sumber belajar utama dan kadang-kadang dipergunakan
“alat Bantu audiovisual “sebagai pelengkap. Sedangkan rancangan pembelajaran
bermedia biasanya dilakukan oleh seorang ahli dalam proses pengembangan
instruksional, termasuk didalamnya kegiatan menilai kebutuhan, analisis siswa,
analisis perbuatan, analisis isi, penyusunan tujuan perilaku dan tes acuan
standar, pentahapan pembelajaran, pemilihan sumber belajar secara sistematis,
dan pengembangan spesifikasi untuk sumber belajar yang efektif. Di sini terjadi
pergeseran dari ahli merancang yang dasar spesialisasi bidang studi, ke ahli
merancang yang khusus dilatih dalam metode pengembangan instruksional. Proses
yang dipakai oleh ahli tersebut akhir ini, adalah proses pengembangan
instruksional yang sistematik, dan bukan sekedar pendekatan intuitif yang
kebanyakan dipakai guru/dosen.
Produksi Bahan Pelajaran
Pembelajaran
bermedia akan mengubah pula orang-orang yang melaksanakan kegiatan produksi,
serta teknik maupun kualitas produksi mereka. Sumber belajar yang secara
sederhana diproduksikan oleh instruktur, akan tersisih oleh unit pembelajaran
bermedia yang dikerjakan oleh spesialis produksi berbagai media seperti: audio,
foto, film dan televisi. Mereka ini menggunakan
teknik produksi dan peralatan yang piawai. Pendidikan mereka berbeda dengan
pendidikan guru/dosen, yaitu bukan sekedar isi ajaran, melainkan juga
mempelajari teknik dan penggunaan peralatan.
Evaluasi Pembelajaran
Dalam
teknologi pendidikan, khususnya program media, fungsi evaluasi menduduki
peranan utama. Evaluasi pembelajaran dilakukan baik pada tahap pengembangan
maupun dalam tahap pemanfaatannya, dalam rangka menentukan efektivias dan
mengidentifikasikan bagian-bagian yang memerlukan penyempurnaan .
Interaksi Dengan Si-belajar
Tujuan serta
orang yang melaksanakan kegiatan dalam fungsi pemanfaatan, akan berubah secara
radikal dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam pembelajaran tradisional,
instruktur secara langsung berinteraksi dengan si-belajar. Dalam pembelajaran
bermedia, tugas menyajikan informasi khususnya, dilakukan oleh sumber belajar
lain yang bukan orang secara langsung. Peranan interaksi yang dilakukan dengan
si-belajar, pertama-tama adalah untuk membantu perkembangan emosi dan sosial
mereka. Kemungkinan interaksi yang kedua adalah untuk tutorial yaitu memberikan
bantuan remedial bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dari media.
Orang-orang yang melakukan kedua peran tersebut berbeda dengan guru kelas yang
sekarang.
Pengukuran Belajar
Aspek kedua
yang berubah karena pembelajaran bermedia adalah pengukuran atas diri
si-belajar. Secara tradisional, para gurulah yang melakukan pengukuran apakah
siswa telah mencapai tujuan belajar atau belum. Pengukuran itu dilakukan dengan
menggunakan metode yang tidak piawai, misalnya dengan menggunakan tes pilihan
ganda, makalah, dan proyek.. seringkali tes-tes tersebut dianggap sebagai
bagian terpisah dan berlainan dari pembelajaran. Seringkali tes tersebut tidak
didasarkan pada tujuan intruksional khusus. Dengan pembelajaran bermedia,
teknik mengukur prestasi siswa menjadi bagian dari pembelajaran. Tes bukan
merupakan tambahan, melainkan bagian integral dari pembelajaran. Acapkali hasil
tes menentukan apakah siswa memerlukan pembelajaran remedial atau tidak,
sebelum siswa yang bersangkutan melanjutkan pelajaran yang berikutnya. Dengan
demikian pengembangan alat-alat pengukuran menjadi bagian dari pengembangan
bahan pembelajaran, dan dilaksanakan oleh ahli bidang studi dan para pengembang
instruksional yang merancang pembelajaran.
Secara
tradisional, guru merupakan orang yang memeriksa tes. Akan tetapi dalam
pembelajaran bermedia, pengukuran belajar siswa mungkin dilaksanakan para juru
tulis atau pengukur lain yang diberi tugas khusus. Mereka melaksanakan koreksi
jawaban tes dengan pedoman kunci jawaban yang disusun oleh perancang ajaran.
Peran Guru dan Sistem Sekolah
Hasil dari
seluruh penerapan praktis dimuka, menurut Finn, menyebabkan,”kemungkinan untuk
tidak meniadakan guru, melainkan juga system sekolah (1960; 16). Pendapat ini
sangat ekstrim, namun berhasil mengungkap suatu kenyataan bahwa dengan
diplikasikannya teknologi pendidikan maka peranan guru dan system sekolah akan
berubah dengan sangat drastis. System sekolah akan berhadapan dengan berbagai
alternative kelembagaan yang memberikan kemungkinan terjadi belajar. Demikian
juga peranan tradisional guru dalam menentukan isi, merancang dan memproduksi
pembelajaran, interaksi dengan dan pengukuran siswa
Aplikasi
teknologi pendidikan pada sumber dan fungsi mengandung pengertian bahwa
teknologi pendidikan menyediakan, melaksanakan pemecahan masalah , serta
mencakup fungsi-fungsi pengelolaan dan pengembangan sumber belajar .Oleh
karenanya kehadiran teknologi pendidikan sangat penting dalam pendidikan .
Dampak
aplikasi teknologi pendidikan sangat berpengaruh pada struktur organisasi
pendidikan . Hal itu akan berpengaruh pada tiga hal yaitu : mengubah tingkat
pengambilan keputusan, menciptakan pola interaksional baru, dan memungkinkan
adanya bentuk alternative lembaga pendidikan .
Aplikasi
teknologi pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap keputusan yang
diambil mengenai suatu proses pendidikan, terutama dalam memutuskan isi yang
diajarkan, pemilihan isi serta tingkat standardisasinya, kuantitas dan kualitas
sumber yang disediakan, rancangan sumber belajar dan yang memproduksinya,
evalusi pembelajarannya beserta prosesnya.
D
I
K
E
R
J
A
K
A
N
O
L
E
H
NAMA : ARTHUR SIMANUNGKALIT
NPM : 150.1.11.002
MATA KULIAH : TEKNOLOGI PEMBELAJARAN PAK
TANGGAL : 29 september 2012
WAKTU : TAKE HOME
DOSEN : PROF. Dr.EFENDI
NAPITUPULUH, M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN NEGERI (STAKPN)
TARUTUNG
2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar