Social Icons

Pages

Senin, 15 Oktober 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Sudah menjadi realita bahwa kehidupan yang terjadi pada saat ini telah mengalami “ krisis kehidupan” dan semua manusia telah menemukan dirinya dalam suatu krisis global; suatu krisis yang sekaligus kompleks dan multidimensional, yang aspek-aspeknya sudah menyentuh setiap sudut kehidupan manusia, misalnya krisis di bidang kesehatan, krisis di bidang mata pencaharian, krisis kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik dan secara khusus tentang pelayanan kekristenan yang dilakukan oleh para pelayan gereja (yang akan dibahas secara khusus dalam tulisan yang bersifat riset mini ini.) Krisis ini adalah krisis dalam dimensi – dimensi intelektual, moral, dan spritual.
Fakta fenomenal yang terjadi pada saat ini dalam hidup kekristenan sudah membuktikan bahwa di dalam pelayanan kekristenan itu sudah terjadi suatu krisis yang sangat kompleks. Para pendeta atau pelayan gereja sering terjadi perselisihan dengan anggota jemaat, pelayan-pelayan gereja sudah tak mencerminkan idealnya seorang pelayan Tuhan dengan bersikap “angkuh”,selalu ingin dihargai tanpa menghargai tugas kepelayanannya, para pelayan gereja pun sudah condong bersikap materialistik dalam kepelayanannya. Padahal tingkat “kepuasan” warga jemaat dalam pelayanan mereka tidak menjadi tujuan utama lagi, seolah – olah materi adalah tujuan utama, dan kepuasan pribadi adalah akhir dalam pelayanan. Sementara peristiwa-peristiwa yang mencakup bidang perceraian, perselingkuhan, korupsi, perkelahian rumah tangga, pindah agama, melanggar norma-norma asusila dan banyak hal lainnya yang terjadi dalam kehidupan berjemaat (gerejawi) sudah dianggap biasa dan seakan-akan tidak dipedulikan. Para pelayan gereja merasa hal itu terlepas dari tanggung jawab mereka, padahal warga jemaat melakukan hal-hal yang melanggar hukum Tuhan adalah akibat rendahnya kualitas spritual warga gereja. Mengapa kehidupan spritual warga gereja semakin krisis? Nah, ini adalah pertanyaan yang tepat, namun pertanyaan yang lebih tepat sebaiknya ditujukan lebih dahulu kepada para pelayan gereja, karena menurut saya kehidupan spritual pelayan gereja sangat berpengaruh terhadap kehidupan spritual warga jemaat. Dan hal tersebut di atas adalah fokus utama penulis dalam riset mini ini. Penulis akan mengaitkan penelitian ini dengan tingkat SQ (Spritual Quotient atau kecerdasan spritual),tingkat EQ (Emotional Quotient atau kecerdasan emosional), dan tingkat IQ (Intellectual Quotient atau kecerdasan intelektual) yang dimiliki oleh para pelayan gereja dalam pelayanannya. Serta isinya juga akan memaparkan tentang pelayanan yang berbasis filosofis. Sukidi mengatakan bahwa ada tiga pemetaan paradigma kecerdasan yaitu : IQ (Intellectual Quotient), EQ, dan SQ. Penggabungan cara berpikir IQ,EQ dan SQ adalah cara berpikir yang filosofis.  Kondisi jemaat yang dalam keadaan bermasalah seperti yang disebutkan di atas memberi indikator bahwa pelayanan para pelayan gereja atau pendeta belum efektif. Maka dalam tulisan ini akan dibahas apakah yang mempengaruhi keefektifan pelayanan? Apakah SQ, EQ dan IQ sangat mempengaruhi pelayanan? Jawabannya akan dibahas penulis melalui riset mini ini dan tentunya hasil dari penelitian ini tidak sempurna namun pasti bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.

B.     IDENTIFIKASI MASALAH

Semua pekerjaan mempunyai tantangan tersendiri dan hal itu adalah sebuah kewajaran dalam mengemban sebuah tanggung jawab. Pekerjaan menjadi seorang pelayan gereja juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena menyangkut kualitas moral dan spritual jemaat atau warga gereja yang dilayaninya.

Masalah yang sering ditemukan di dalam pelayanan adalah didapatinya beberapa indikasi bahwa pelayan gereja tidak memahami pelayanan yang bersifat filosofis. Contoh-contoh yang dapat kita lihat adalah pelayan gereja cenderung ingin dicintai tanpa lebih dahulu mencintai, cenderung ingin dilayani tanpa melakukan penerapan melayani dengan maksimal. Pelayanan identik sebatas kotbah di tempat ibadah, tanpa memperhatikan kasus perkelahian,perceraian,perselingkuhan,korupsi yang dilakukan oleh jemaat . Padahal kehidupan berjemaat yang diharapkan oleh ajaran kekristenan adalah terciptanya kualitas moral jemaat yang baik, terciptanya keharmonisan rumah tangga. Kesenjangan antara apa yang kita harapkan (what should be) dan kenyataan (what is) itulah yang menjadi “masalah” dalam tulisan ini.

C.    PEMBATASAN MASALAH

Di dalam tulisan ini penulis akan membatasi bahasan tentang pelayan gereja (secara khusus pendeta) dalam melaksanakan tugas kepelayanannya. Penulis akan membahas sejauh manakah pengaruh IQ (Intellectual Quotient), EQ (emotional qoutient), SQ (Spritual Quotient) dan PQ (physic quotient) mempengaruhi keberhasilan tugas kepelayanannya yang disebut sebagai kefektifan pelayanan.

D.    RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan?
2.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap PQ ?
3.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap EQ ?
4.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap IQ
5.      Bagaimanakah pengaruh  IQ terhadap efektifitas pelayanan?
6.      Bagaimanakah pengaruh  IQ terhadap PQ ?
7.      Bagaimanakah pengaruh  EQ terhadap efektifitas pelayanan ?
8.      Bagaimanakah pengaruh  EQ terhadap PQ ?
9.      Bagaimanakah pengaruh  PQ terhadap efektifitas pelayanan ?

E.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan.
2.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap PQ.
3.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap EQ.
4.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap IQ.
5.      Untuk melihat pengaruh IQ terhadap efektifitas pelayanan.
6.      Untuk melihat pengaruh IQ terhadap PQ.
7.      Untuk melihat pengaruh EQ terhadap efektifitas pelayanan.
8.      Untuk melihat pengaruh EQ terhadap PQ.
9.      Untuk melihat pengaruh PQ terhadap efektifitas pelayanan.

F.     MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini akan bermanfaat bagi penulis dan pembaca dengan alasan bahwa dengan penelitian ini maka penulis lebih mengetahui kiat-kiat yang tepat dalam melaksanakan tugas kepelayanan gereja, dan pembaca dapat menjadikan isi tulisan ini menjadi bahan untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang keberhasilan pelayanan di dalam hidup kekristenan, melalui tulisan ini pembaca dimungkinkan untuk dapat inspirasi terbaru dalam hal pelayanan. Secara khusus tulisan ini akan sangat berguna bagi para pelayan-pelayan gereja yang ingin meningkatkan kualitas pelayananannya, dalam memberitakan injil keselamatan (Mat.28:19-20) dan menjadi saksi kristus di seluruh penjuru bumi (Kisah 1:8)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar