BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Sudah
menjadi realita bahwa kehidupan yang terjadi pada saat ini telah mengalami “
krisis kehidupan” dan semua manusia telah menemukan dirinya dalam suatu krisis
global; suatu krisis yang sekaligus kompleks dan multidimensional, yang aspek-aspeknya
sudah menyentuh setiap sudut kehidupan manusia, misalnya krisis di bidang
kesehatan, krisis di bidang mata pencaharian, krisis kualitas lingkungan dan
hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik dan secara khusus tentang
pelayanan kekristenan yang dilakukan oleh para pelayan gereja (yang akan
dibahas secara khusus dalam tulisan yang bersifat riset mini ini.) Krisis ini
adalah krisis dalam dimensi – dimensi intelektual, moral, dan spritual.
Fakta
fenomenal yang terjadi pada saat ini dalam hidup kekristenan sudah membuktikan
bahwa di dalam pelayanan kekristenan itu sudah terjadi suatu krisis yang sangat
kompleks. Para pendeta atau pelayan gereja sering terjadi perselisihan dengan
anggota jemaat, pelayan-pelayan gereja sudah tak mencerminkan idealnya seorang
pelayan Tuhan dengan bersikap “angkuh”,selalu ingin dihargai tanpa menghargai
tugas kepelayanannya, para pelayan gereja pun sudah condong bersikap
materialistik dalam kepelayanannya. Padahal tingkat “kepuasan” warga jemaat
dalam pelayanan mereka tidak menjadi tujuan utama lagi, seolah – olah materi
adalah tujuan utama, dan kepuasan pribadi adalah akhir dalam pelayanan.
Sementara peristiwa-peristiwa yang mencakup bidang perceraian, perselingkuhan, korupsi, perkelahian rumah tangga, pindah agama,
melanggar norma-norma asusila dan banyak hal lainnya yang terjadi dalam
kehidupan berjemaat (gerejawi) sudah dianggap biasa dan seakan-akan tidak
dipedulikan. Para pelayan gereja merasa hal itu terlepas dari tanggung jawab
mereka, padahal warga jemaat melakukan hal-hal yang melanggar hukum Tuhan
adalah akibat rendahnya kualitas spritual warga gereja. Mengapa kehidupan
spritual warga gereja semakin krisis? Nah, ini adalah pertanyaan yang tepat,
namun pertanyaan yang lebih tepat sebaiknya ditujukan lebih dahulu kepada para
pelayan gereja, karena menurut saya kehidupan spritual pelayan gereja sangat
berpengaruh terhadap kehidupan spritual warga jemaat. Dan hal tersebut di atas
adalah fokus utama penulis dalam riset mini ini. Penulis akan mengaitkan penelitian
ini dengan tingkat SQ (Spritual Quotient
atau kecerdasan spritual),tingkat EQ (Emotional
Quotient atau kecerdasan emosional), dan tingkat IQ (Intellectual Quotient atau kecerdasan intelektual) yang dimiliki
oleh para pelayan gereja dalam pelayanannya. Serta isinya juga akan memaparkan
tentang pelayanan yang berbasis filosofis. Sukidi mengatakan bahwa ada tiga
pemetaan paradigma kecerdasan yaitu : IQ (Intellectual
Quotient), EQ, dan SQ. Penggabungan cara berpikir IQ,EQ dan SQ adalah cara
berpikir yang filosofis. Kondisi jemaat
yang dalam keadaan bermasalah seperti yang disebutkan di atas memberi indikator
bahwa pelayanan para pelayan gereja atau pendeta belum efektif. Maka dalam
tulisan ini akan dibahas apakah yang mempengaruhi keefektifan pelayanan? Apakah
SQ, EQ dan IQ sangat mempengaruhi pelayanan? Jawabannya akan dibahas penulis
melalui riset mini ini dan tentunya hasil dari penelitian ini tidak sempurna
namun pasti bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.
B.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Semua
pekerjaan mempunyai tantangan tersendiri dan hal itu adalah sebuah kewajaran
dalam mengemban sebuah tanggung jawab. Pekerjaan menjadi seorang pelayan gereja
juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena menyangkut kualitas
moral dan spritual jemaat atau warga gereja yang dilayaninya.
Masalah
yang sering ditemukan di dalam pelayanan adalah didapatinya beberapa indikasi
bahwa pelayan gereja tidak memahami pelayanan yang bersifat filosofis.
Contoh-contoh yang dapat kita lihat adalah pelayan gereja cenderung ingin dicintai tanpa lebih dahulu mencintai, cenderung ingin dilayani tanpa melakukan penerapan melayani dengan maksimal. Pelayanan
identik sebatas kotbah di tempat ibadah, tanpa memperhatikan kasus
perkelahian,perceraian,perselingkuhan,korupsi yang dilakukan oleh jemaat .
Padahal kehidupan berjemaat yang diharapkan oleh ajaran kekristenan adalah
terciptanya kualitas moral jemaat yang baik, terciptanya keharmonisan rumah
tangga. Kesenjangan antara apa yang kita harapkan (what should be) dan kenyataan (what
is) itulah yang menjadi “masalah” dalam tulisan ini.
C.
PEMBATASAN
MASALAH
Di
dalam tulisan ini penulis akan membatasi bahasan tentang pelayan gereja (secara
khusus pendeta) dalam melaksanakan tugas kepelayanannya. Penulis akan membahas
sejauh manakah pengaruh IQ (Intellectual
Quotient), EQ (emotional qoutient),
SQ (Spritual Quotient) dan PQ (physic quotient) mempengaruhi
keberhasilan tugas kepelayanannya yang disebut sebagai kefektifan pelayanan.
D.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimanakah
pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan?
2. Bagaimanakah
pengaruh SQ terhadap PQ ?
3. Bagaimanakah
pengaruh SQ terhadap EQ ?
4. Bagaimanakah
pengaruh SQ terhadap IQ
5. Bagaimanakah
pengaruh IQ terhadap efektifitas
pelayanan?
6. Bagaimanakah
pengaruh IQ terhadap PQ ?
7. Bagaimanakah
pengaruh EQ terhadap efektifitas
pelayanan ?
8. Bagaimanakah
pengaruh EQ terhadap PQ ?
9. Bagaimanakah
pengaruh PQ terhadap efektifitas
pelayanan ?
E.
TUJUAN
PENELITIAN
1. Untuk
melihat pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan.
2. Untuk
melihat pengaruh SQ terhadap PQ.
3. Untuk
melihat pengaruh SQ terhadap EQ.
4. Untuk
melihat pengaruh SQ terhadap IQ.
5. Untuk
melihat pengaruh IQ terhadap efektifitas pelayanan.
6. Untuk
melihat pengaruh IQ terhadap PQ.
7. Untuk
melihat pengaruh EQ terhadap efektifitas pelayanan.
8. Untuk
melihat pengaruh EQ terhadap PQ.
9. Untuk
melihat pengaruh PQ terhadap efektifitas pelayanan.
F.
MANFAAT
PENELITIAN
Penelitian
ini akan bermanfaat bagi penulis dan pembaca dengan alasan bahwa dengan
penelitian ini maka penulis lebih mengetahui kiat-kiat yang tepat dalam
melaksanakan tugas kepelayanan gereja, dan pembaca dapat menjadikan isi tulisan
ini menjadi bahan untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang keberhasilan
pelayanan di dalam hidup kekristenan, melalui tulisan ini pembaca dimungkinkan
untuk dapat inspirasi terbaru dalam hal pelayanan. Secara khusus tulisan ini
akan sangat berguna bagi para pelayan-pelayan gereja yang ingin meningkatkan
kualitas pelayananannya, dalam memberitakan injil keselamatan (Mat.28:19-20)
dan menjadi saksi kristus di seluruh penjuru bumi (Kisah 1:8)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar