Social Icons

Pages

Senin, 15 Oktober 2012


[ REVISI ]


KAJIAN TENTANG PELAYANAN YANG BERBASIS FILOSOFIS
(SEBUAH RISET MINI TERHADAP PELAYANAN OLEH PELAYAN GEREJA)



Dikerjakan Oleh;
            Nama              : Arthur simanungkalit
            NPM               : 150.1.11.002
            M.Kuliah        : Filsafat Ilmu
            Dosen              : Prof. Dr. Belferik Manullang
           



 










SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN (STAKP) NEGERI - TARUTUNG
2012




ABSRTAK

Pelayanan yang efektif dari para pendeta itulah yang sangat  membantu  perubahan dunia ke arah yang lebih baik, namun kenyataan dilapangan membuktikan bahwa terjadi keadaan moral jemaat tidak menunjukkan hasil moral yang lebih baik. Beberapa  penelitian  yang  telah  dilakukan berusaha  melakukan  kajian  tentang  pengaruh  kecerdasan  intelektual,  kecerdasan  emosi dan  kecerdasan  spiritual  dengan  keberhasilan kinerja  seseorang.  Melalui tulisan ini dilakukan riset mini dengan menghubungkan SQ,EQ, IQ, dan PQ untuk keberhasilan pelayanan pendeta, yang juga dapat disebut pelayanan yang efektif.  Riset mini ini ditujukan kepada para pendeta. Pelayanan yang berbasis filosofis di dalam tulisan ini adalah ketika SQ mempengaruhi IQ, EQ, dan PQ dan keempat variabel tersebut menjadi sebuah kombinasi yang seimbang untuk pelayanan yang efektif.

Kata kunci : Kecerdasan Spritual (SQ), Kecerdasan Emosi (EQ), Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Pelayanan yang Efektif





















BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Sudah menjadi realita bahwa kehidupan yang terjadi pada saat ini telah mengalami “ krisis kehidupan” dan semua manusia telah menemukan dirinya dalam suatu krisis global; suatu krisis yang sekaligus kompleks dan multidimensional, yang aspek-aspeknya sudah menyentuh setiap sudut kehidupan manusia, misalnya krisis di bidang kesehatan, krisis di bidang mata pencaharian, krisis kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik dan secara khusus tentang pelayanan kekristenan yang dilakukan oleh para pelayan gereja (yang akan dibahas secara khusus dalam tulisan yang bersifat riset mini ini.) Krisis ini adalah krisis dalam dimensi – dimensi intelektual, moral, dan spritual.
Fakta fenomenal yang terjadi pada saat ini dalam hidup kekristenan sudah membuktikan bahwa di dalam pelayanan kekristenan itu sudah terjadi suatu krisis yang sangat kompleks. Para pendeta atau pelayan gereja sering terjadi perselisihan dengan anggota jemaat, pelayan-pelayan gereja sudah tak mencerminkan idealnya seorang pelayan Tuhan dengan bersikap “angkuh”,selalu ingin dihargai tanpa menghargai tugas kepelayanannya, para pelayan gereja pun sudah condong bersikap materialistik dalam kepelayanannya. Padahal tingkat “kepuasan” warga jemaat dalam pelayanan mereka tidak menjadi tujuan utama lagi, seolah – olah materi adalah tujuan utama, dan kepuasan pribadi adalah akhir dalam pelayanan. Sementara peristiwa-peristiwa yang mencakup bidang perceraian, perselingkuhan, korupsi, perkelahian rumah tangga, pindah agama, melanggar norma-norma asusila dan banyak hal lainnya yang terjadi dalam kehidupan berjemaat (gerejawi) sudah dianggap biasa dan seakan-akan tidak dipedulikan. Para pelayan gereja merasa hal itu terlepas dari tanggung jawab mereka, padahal warga jemaat melakukan hal-hal yang melanggar hukum Tuhan adalah akibat rendahnya kualitas spritual warga gereja. Mengapa kehidupan spritual warga gereja semakin krisis? Nah, ini adalah pertanyaan yang tepat, namun pertanyaan yang lebih tepat sebaiknya ditujukan lebih dahulu kepada para pelayan gereja, karena menurut saya kehidupan spritual pelayan gereja sangat berpengaruh terhadap kehidupan spritual warga jemaat. Dan hal tersebut di atas adalah fokus utama penulis dalam riset mini ini. Penulis akan mengaitkan penelitian ini dengan tingkat SQ (Spritual Quotient atau kecerdasan spritual),tingkat EQ (Emotional Quotient atau kecerdasan emosional), dan tingkat IQ (Intellectual Quotient atau kecerdasan intelektual) yang dimiliki oleh para pelayan gereja dalam pelayanannya. Serta isinya juga akan memaparkan tentang pelayanan yang berbasis filosofis. Sukidi mengatakan bahwa ada tiga pemetaan paradigma kecerdasan yaitu : IQ (Intellectual Quotient), EQ, dan SQ. Penggabungan cara berpikir IQ,EQ dan SQ adalah cara berpikir yang filosofis.  Kondisi jemaat yang dalam keadaan bermasalah seperti yang disebutkan di atas memberi indikator bahwa pelayanan para pelayan gereja atau pendeta belum efektif. Maka dalam tulisan ini akan dibahas apakah yang mempengaruhi keefektifan pelayanan? Apakah SQ, EQ dan IQ sangat mempengaruhi pelayanan? Jawabannya akan dibahas penulis melalui riset mini ini dan tentunya hasil dari penelitian ini tidak sempurna namun pasti bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.

B.     IDENTIFIKASI MASALAH

Semua pekerjaan mempunyai tantangan tersendiri dan hal itu adalah sebuah kewajaran dalam mengemban sebuah tanggung jawab. Pekerjaan menjadi seorang pelayan gereja juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena menyangkut kualitas moral dan spritual jemaat atau warga gereja yang dilayaninya.

Masalah yang sering ditemukan di dalam pelayanan adalah didapatinya beberapa indikasi bahwa pelayan gereja tidak memahami pelayanan yang bersifat filosofis. Contoh-contoh yang dapat kita lihat adalah pelayan gereja cenderung ingin dicintai tanpa lebih dahulu mencintai, cenderung ingin dilayani tanpa melakukan penerapan melayani dengan maksimal. Pelayanan identik sebatas kotbah di tempat ibadah, tanpa memperhatikan kasus perkelahian,perceraian,perselingkuhan,korupsi yang dilakukan oleh jemaat . Padahal kehidupan berjemaat yang diharapkan oleh ajaran kekristenan adalah terciptanya kualitas moral jemaat yang baik, terciptanya keharmonisan rumah tangga. Kesenjangan antara apa yang kita harapkan (what should be) dan kenyataan (what is) itulah yang menjadi “masalah” dalam tulisan ini.

C.    PEMBATASAN MASALAH

Di dalam tulisan ini penulis akan membatasi bahasan tentang pelayan gereja (secara khusus pendeta) dalam melaksanakan tugas kepelayanannya. Penulis akan membahas sejauh manakah pengaruh IQ (Intellectual Quotient), EQ (emotional qoutient), SQ (Spritual Quotient) dan PQ (physic quotient) mempengaruhi keberhasilan tugas kepelayanannya yang disebut sebagai kefektifan pelayanan.

D.    RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan?
2.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap PQ ?
3.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap EQ ?
4.      Bagaimanakah pengaruh SQ terhadap IQ
5.      Bagaimanakah pengaruh  IQ terhadap efektifitas pelayanan?
6.      Bagaimanakah pengaruh  IQ terhadap PQ ?
7.      Bagaimanakah pengaruh  EQ terhadap efektifitas pelayanan ?
8.      Bagaimanakah pengaruh  EQ terhadap PQ ?
9.      Bagaimanakah pengaruh  PQ terhadap efektifitas pelayanan ?

E.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap efektifitas pelayanan.
2.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap PQ.
3.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap EQ.
4.      Untuk melihat pengaruh SQ terhadap IQ.
5.      Untuk melihat pengaruh IQ terhadap efektifitas pelayanan.
6.      Untuk melihat pengaruh IQ terhadap PQ.
7.      Untuk melihat pengaruh EQ terhadap efektifitas pelayanan.
8.      Untuk melihat pengaruh EQ terhadap PQ.
9.      Untuk melihat pengaruh PQ terhadap efektifitas pelayanan.

F.     MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini akan bermanfaat bagi penulis dan pembaca dengan alasan bahwa dengan penelitian ini maka penulis lebih mengetahui kiat-kiat yang tepat dalam melaksanakan tugas kepelayanan gereja, dan pembaca dapat menjadikan isi tulisan ini menjadi bahan untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang keberhasilan pelayanan di dalam hidup kekristenan, melalui tulisan ini pembaca dimungkinkan untuk dapat inspirasi terbaru dalam hal pelayanan. Secara khusus tulisan ini akan sangat berguna bagi para pelayan-pelayan gereja yang ingin meningkatkan kualitas pelayananannya, dalam memberitakan injil keselamatan (Mat.28:19-20) dan menjadi saksi kristus di seluruh penjuru bumi (Kisah 1:8)
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.    PEMBAHASAN VARIABEL
Di bawah ini adalah skema yang menggambarkan keterkaitan variabel yang akan dibahas penulis dalam hal pelayanan yang berbasis filosofis dan saya sebut sebagai pelayanan yang efektif.

IQ / X2
 
                                   
PELAYANAN / X5
PQ / X4
                                               
SQ / X1
                                                              
EQ / X3
 



                                               
                                                                The model of normative commitment

KETERANGAN
·         X1 adalah Spritual Quotient atau kecerdasan spritual,
·         X2 adalah Intellectual Quotient atau kecerdasan intelektual
·         X3 adalah Emotional Quotient atau kecerdasan emosional
·         X4 adalah physic Quotient atau kemampuan menggunakan tubuh
·         X5 adalah pelayanan dalam kehidupan kristiani
                   = berpengaruh/mempengaruhi


A.    SQ (SPRITUAL QUOTIENT )

Spritual Intelligence (SQ, Spritual Quotient) adalah paradigma kecerdasan spritual. Artinya segi dan ruang spritual kita bisa memancarkan cahaya spritual (spritual light) dalam bentuk kecerdasan spritual. Kecerdasan spritual adalah cahaya, ciuman kehidupan yang membangunkan keindahan tidur kita. Kecerdasan spritual membangunkan orang dari segala usia dalam segala situasi. Kecerdasan spritual melibatkan kemampuan menghidupkan kebenaran yang paling dalam, itu berarti mewujudkan hal terbaik, utuh dan paling manusiawi dalam batin. Gagasan energi,nilai,visi, dorongan dan arah panggilan hidup, mengalir dari dalam dari suatu kesadaran yang hidup bersama cinta.[1]

B.     IQ (Intellectual Quotient atau kecerdasan intelektual)

Masih jelas tampak pada saat ini bahwa banyak orang yang lebih kagum kepada orang yang mempunyai tingkat intelektual yang tinggi atau sering di kenal jenius yang mana IQ nya di atas rata-rata. Dan cara berpikir intelektual pun banyak mendominasi sistem kehidupan. Contoh nyatanya adalah dunia yang semakin berubah karena penerapan ilmu tekhnologi yang lebih menekankan cara berpikir intelektual dan rasional, baik itu tekhnologi informatika,teknologi konstruksi, teknologi biologi, teknologi kedokteran dan ragam tekhnologi lainnya. INTELLECTUAL ABILITIES IS THE CAPACITY TO DO MENTAL ACTIVITIES, THINKING, REASONING, AND PROBLEM SOLVING. [2] (cerdas intelektual berarti memiliki ketepatan dan kecepatan melakukan aktivitas mental, berfikir, penalaran, dan pemecahan masalah.) Dimensions of intellectual ability; number, aptitude, verbal comprehension, perceptual speed, inductive reasoning, deductive reasoning, spatial visualization, memory. Dimensi kemampuan intelektual, numerik, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, memori.


C.    KECERDASAN EMOSIONAL
Paradigma tentang kecerdasan emosional saya kutip melalui tulisan Sukidi yaitu pengenalan diri[3] karena kecerdasan emosional adalah sesuatu yang harus disadari, dikelola dan dimotivasi bahkan untuk diarahkan. EQ adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan penuh pengaruh manusiawi. Bukti neurologis terakhir menunjukkan bahwa emosi adalah bahan bakar yang tidak tergantikan bagi otak agar  mampu melakukan penalaran yang  motus  - anima jiwa yang menggerakkan individu.
D.    KECERDASAN FISIK
Kecerdasan fisik atau Physic Quotient adalah alat atau media yang digunakan oleh IQ, EQ, dan SQ.  SQ, EQ dan IQ tidak akan bisa tampak baik jika penggunaan fisik tidak baik juga. Kecerdasan fisik sangat dipengaruhi oleh kecerdasan-kecerdasan lainnya. Dan yang menggerakkan tubuh yang tampak adalah kecerdasan-kecerdasan dari dalam tubuh (yang tidak tampak).

E.     PELAYANAN YANG EFEKTIF
Tidak ada kebaktian lingkungan, tidak akur dengan jemaat setempat, tidak ada pastoral konseling untuk jemaat bermasalah, masih banyak jemaat yang lebih condong melakukan penyakit masyarakat seperti judi, mabuk, perselingkuhan, perceraian, semua hal yang tersebut itu menandakan dan membuktikan adanya pelayanan yang tidak efektif di lingkungan tempat pendeta tinggal. Hidup seorang pendeta haruslah mampu meminimalisir penyakit masyarakat dan memaksimalkan kehidupan jemaat yang penuh persaudaraan dan dewasa iman. W.A. Criswell mengatakan bahwa kehidupan pendeta harus hidup untuk Tuhan.

Kekuatan di Dalam Diri Seorang Pendeta

1.      Yang pertama dan yang utama yang menjadi kekuatan di dalam diri pendeta adalah keyakinannya, jauh di dalam dirinya sendiri, bahwa Allah telah memanggil dia menjadi seorang pelayan. Jika kepercayaan ini tidak dapat diguncangkan, semua unsur lain di dalam kehidupan pendeta akan jatuh kedalam keindahan tempat dan pelayanan.
Tidak ada keraguan bahwa Alkitab menggambarkan bahwa seorang pelayan adalah seorang manusia Allah. Dalam Perjanjian Lama tidak ada seorang nabi yang berani masuk ke dalam tugas yang suci ini berdasarkan keinginannya sendiri. Allah telah memanggil Dia (Ul. 18:20; Yer. 23:30; Yes. 6; Yer. 1:4-10).
Para pelayan di Perjanjian Baru selalu dibicarakan sebagai petugas yang ditunjuk oleh Allah (Kis. 20:28; Kol. 4:17). Paulus dan Barnabas telah dikhususkan untuk pekerjaan dimana Roh Kudus telah memanggil mereka (Kis. 13:2). Pelayanan merupakan sebuah karunia khusus yang diberikan oleh Kristus kepada jemaat (Ef. 4:11-12). Karunia-karunia untuk petugas ini ditetapkan oleh Allah dan orang yang dikirim ke pelayanan dilakukan oleh Allah sendiri dalam menjawab doa dari jemaat Roma (Roma 12:6-7; Luk. 10:1-3).
Pelayan dari Kristus disebut juga sebagai “utusan-utusan Kristus” (2 Kor. 5:20); yang berarti mereka datang dan berbicara atas namaNya. Mereka adalah pelayan dari tugas penyelengaraan Allah yang dipercayakan untuk memberitakan injil kepada manusia. Salah satu kata yang paling kuat dalam Perjanjian Baru yang berhubungan dengan panggilan pelayanan ditemukan dalam tulisan Paulus di 1 Korintus 9:16-17:

Karena jika aku memberitakan injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
Hal itu harus selalu berada dalam hidup pendeta, sebuah tugas yang kekal untuk memberitakan injil!
Terhadap seorang pelayan injil disana harus selalu ada panggilan dari dalam dirinya yang tidak dapat dipadamkan. Ada sebuah ketetapan dan hasrat serta perhatian bagi pekerjaan yang sudah menjadi bagian dalam diri pendeta (1Tim. 3:1). Hasrat ini berasal dari Allah sendiri. Itu merupakan sebuah antusiasme yang kekal terhadap pekerjaan, sebagaimana dia memproklamasikan pesan Allah untuk menyelamatkan manusia (Kis. 20:24). Lalu tentu saja, ada panggilan dari jemaat, panggilan dari luar. Hal ini dieskpresikan dalam pendirian jemaat, hasil dari sebuah keyakinan bahwa orang tersebut  telah memiliki kualifikasi untuk menjadi pelayan injil. Tetapi jika hanya orang itu yang percaya bahwa dia telah dipanggil untuk pelayanan itu maka itu sebuah tanda yang pasti bahwa di tidak dipanggil. Jika seseorang dipanggil Allah untuk berkotbah maka orang lain akan merasakan hal itu dan mewujudkannya.
Seseorang yang telah dipanggil Allah didalam dirinya sendiri harus memiliki keyakinan dan pendirian yang dalam bahwa dia “ada di dalam Kristus.” Kesalahan dalam hal ini akan membawa akibat yang fatal—fatal bagi pelayanan itu sendiri dan juga fatal bagi jemaat dimana Allah telah menempatkan mereka di bawa pengembalaannya.
Seorang pelayan juga harus memiliki sebuah kesalehan yang dalam (1 Tim.4:12). Seperti yang telah kita sampaikan, bahwa dia merupakan sebuah model bagi jemaat. Dia harus menjadi corong iman (1 Tim.1:13; Titus 2:1). Dia harus memiliki kapasitas mental yang baik dan terlatih dalam pengetahuan Kitab Suci (2 Tim.2:15). Dia harus cakap mengajar orang (1 Tim.3:2; 2 Tim. 2:2; 2 Tim. 2:24-25). Kisah Rasul 14:1 berkata “[Paulus dan Barnabas] mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya.”
Dia harus menjadi seseorang yang bijaksana dalam hal-hal praktikal dan memiliki kemampuan kepemimpinan. Sejumlah besar dari kesuksesan pendeta didasarkan atas penguasaannya terhadap hal-hal praktikal yang berkualitas.
Akhirnya, dia harus mempunyai nama yang baik di luar jemaat (1 Tim.3:7; 2 Kor.4:2; 6:3). Pelayananan sering direndahkan dan dihina oleh orang-orang yang tidak berguna, beberapa dari antara mereka bersalah dengan membuat kompromi terhadap hal-hal yang memalukan.
Luther menulis di dalam tafsirannya terhadap surat Galatia,  Setiap pelayan dari Allah harus memiliki keyakinan atas panggilannya, bahwa dihadapan Allah dan Manusia, dengan keyakinan yang teguh, kemuliaan yang menyertainya, bahwa injil yang diberitakannya harus sesuai dengan apa yang telah disampaikan, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang duta besar dari raja yang mulia, yang tidak datang didasarkan atas dirinya sendiri tetapi sebagai seorang utusan Raja.”
Penulis dan penyair Kristen yang terkenal, William Cooper, menggambarkan manusia yang dipanggil Allah dalam baris-baris puisi ini:

                  Apakah aku harus menggambarkan seorang pengkotbah seperti Paulus,
                        Dimana seluru bumi akan mendengar, mengakui dan menghargai
                        Paulus sendiri telah memimpinku. Aku akan mengikuti
                        Keunggulannya, tergambar dari pola hidupnya;
                        Aku akan menirunya dalam kesederhanaannya, kebaikan hatinya
                        Teguh di dalam doktrin; jelas dalam kata-katanya
                        Dan jelas dalam sikap hidupnya, kelakuan, kesungguhan, kesucian
                        Dan alami dalam gerak tubuhnya, sangat mengesankan
                        Dirinya sendiri, sebagai sebuah kesadaran dalam memberikan petunjuk
                        yang hebat
                        Dan mencemaskan sebagian besar kawanan domba yang dia beri makan
                        Merasakan hal itu juga; kasih sayang yang terlihat
                        Lembut dalam berbicara, juga dalam menyambut
Sebuah pesan keselamatan bagi orang yang bersalah

                                                                --WILLIAM COOPER

Jika seorang pendeta merupakan penyampai pesan yang sesungguhnya dari surga, dan memiliki kepercayaan yang sungguh-sungguh di dalam dirinya tentang panggilan ilahinya, maka setiap iblis yang ada di neraka dan setan-setan yang ada di bumi tidak dapat menghentikan pelayanannya. Dia akan memenangkan jiwa, membangun gereja, memuliakan Kristus dalam setiap kata-kata dan tindakannya. Dengan begitu pelayanan seorang pendeta bisa efektif.

B.  KERANGKA BERPIKIR

Pada bagian ini penulis membuat bahwa antara variabel – variabel saling mempengaruhi dan variabel – variabel tertentu yang mempengaruhi efektifitas pelayanan, dan hal-hal itulah yang dijadikan penulis sebagai kerangka berfifikir.
PELAYANAN / X5
                                   
SQ / X1
 


Dari gambar di atas penulis membuat kerangka berfikir bahwa SQ atau kecerdasan spritual mempengaruhi efektifitas pelayanan, bahkan SQ akan mempengaruhi tingkat keberhasilan pelayanan para pendeta. Sehingga pendeta sangat perlu memahami dan mengaplikasikan pemahaman tentang SQ di dalam pelayanannya.
IQ / X2

PELAYANAN / X5
 



IQ atau kecedasan intelektual mempengaruhi kinerja dan keberhasilan pendeta dalam pelayanannya. Dan hal itu bisa dipahami melalui gambar di atas.
EQ / X3
PELAYANAN / X5
 



Kecerdasan Emosional ayau EQ adalah kemampuan yang sangat mendukung semua jenis pekerjaan dan keberhasilannya, dan tak lepas juga dengan pelayanan pendeta. EQ adalah faktor pendukung yang sangat penting untuk keefektifan pelayanan. Dan hal tersebut digambarkan melalui skema di atas.



PELAYANAN / X5
PQ / X4
 



Tanpa phisik yang bagus dan sehat maka pelayanan yang efektif pun akan sulit terpenuhi, maka kerangka berfikir penulis pun bisa digambarkan seperti di atas. Penggunaan fisik yang baik akan membuat pelayanan itu semakin efektif, karena penampilan dan bahasa tubuh adalah sesuatu hal yang urgent dalam keefektifan pelayanan.
PQ / X4
EQ/X3
 



Cara bertindak, dan penggunaan fisik dipengaruhi oleh kecerdasan emosional, hal ini juga dijadikan oleh penulis sebagai rangka berfikir untuk riset mini ini.  Jadi EQ mempengaruhi PQ.
IQ / X4
SQ/X1
 



Melalui gambar di atas kerangka berfikir penulis adalah bahwa SQ mempengaruhi IQ, karena kecerdasan spritual yang mementingkan moral akan mendukung IQ dalam mengaplikasikan tekhnologi yang sangat mementingkan kecerdasan intelektual.

PQ / X4
IQ/X2
 


Kecerdasan Intelektual mempengaruhi kecerdasan fisik, alasan untuk pernyataan ini atau seperti gambar di atas adalah bahwa penerapan dan prestasi IQ adalah karena dukungan dari PQ.

PQ / X4
EQ/X3
 


Kecerdasan emosi mempengaruhi kecerdasan pisik, sama halnya seperti IQ mempengaruhi PQ. Orang yang cerdas secara emosi akan mempengaruhi segala tindakan fisik sesorang termasuk menyangkut kesehatan jiwa raganya.



EQ / X3
SQ/X1
 


Kecerdasan spritual manusia akan memberi nilai-nilai kemanusiaan dan nilai moral yang tinggi yang mempengaruhi kecerdasan emosional manusia itu sendiri. Maka kerangka berfikir ini lah yang juga menjadi acuan riset mini ini.
Dari kerangka berpikir di atas beserta dari gambar-gambarnya diketahui bahwa kecerdasan  spritual mempengaruhi variabel-variabel lainnya.

HIPOTESIS

Maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut :
1.      Ada hubungan yang signifikan antara SQ dan Pelayanan yang efektif.
2.      Ada hubungan yang signifikan antara EQ dan pelayanan yang efektif
3.      Ada hubungan yang signifikan antara IQ dan pelayanan yang efektif
4.      Ada hubungan yang signifikan antara PQ dan pelayanan yang efektif
5.      Ada hubungan yang signifikan antara SQ dan EQ
6.      Ada hubungan yang signifikan antara SQ dan PQ
7.      Ada hubungan yang signifikan antara SQ dan IQ
8.      Ada hubungan yang signifikan antara EQ dan PQ
9.      Ada hubungan yang signifikan antara IQ dan PQ














BAB III
METODOLGI PENELITIAN

I. JENIS DAN SUMBER DATA

Dalam penelitian ini diperlukan sejumlah data yang relevan dengan masalah  penelitian. Ada  dua jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Kedua jenis data  tersebut adalah :
a.  Data primer
Menurut Cooper dan Emory (1996) data primer adalah data yang berasal langsung  dari  sumber  data  yang  dikumpulkan  secara  khusus  dan  berhubungan  langsung  dengan masalah penelitian yang akan diteliti. Sumber data primer pada penelitian  ini didapat dari penyebaran angket yang berisi kuesioner kepada para pendeta yang dijadikan sampel penelitian. Data yang didapat berupa data ordinal  dan jenisnya adalah data cross section yaitu data yang diambil pada waktu itu saja. 
b.  Data sekunder
Semua  data  yang  tidak  langsung  diperoleh  dari  sumber  pertama  penelitian  didefinisikan sebagai data sekunder. Data ini erat kaitannya dengan masalah yang  diteliti.  Data  sekunder  dalam  penelitian  digunakan  sebagai  pendukung  data  primer. Dalam hal ini data sekunder berupa data pendeta yang diteliti baik itu keluarganya, kehidupan pribadinya, usia, pendidikan dan sebagainya yang mendukung penelitian ini.

II. UJI HIPOTESIS
Setelah data-data terkumpul maka dilakukan suatu analisis data. Analisis data  adalah suatu proses mengolah data wawancara yang telah dilakukan dan berdasarkan hubungan yang tampak pada variabel. Dari analisis data akan didapat hasil yang nantinya dipakai untuk menguji hipotesis. Dalam  penelitian ini data yang diperoleh dianalisis dengan berdasar pemikiran dan kebijakan penulis.
RESPONDEN
SQ
EQ
IQ
PQ
KETERANGAN
A
SEDANG
SEDANG
BAIK
BAIK
PELAYANAN BAIK
B
KURANG
KURANG
BAIK
BAIK
PELAYANAN BERMASALAH
C
KURANG
KURANG
SEDANG
BAIK
PELAYANAN BERMASALAH
D
KURANG
KURANG
BAIK
SEDANG
PELAYANAN BERMASALAH

Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang cenderung efektif dimana terjadi keakraban antara pendeta dengan sintua dan jemaat,tidak pernah terjadi cekcok atau pertengkaran, terdapat keharmonisan pendeta dengan jemaat dalam pelayanannya. Sedangkan pelayanan yang bermaslah adalah pelayanan yang tidak efektif, dimana terdapat ketidakharmonisan dan ketidaksesuaian pelayanan yang diharapkan, misalnya tidak ada kebaktian lingkungan di tempat pendeta bertugas, pernah terjadi pertengkaran dalam kehidupan berjemaat. Sedangkan nilai pada kategori “ sedang, baik, kurang” di berikan peneliti sesuai dengan hasil wawancara dan pengenalan terhadap responden.


2.1. Uji hipotesis 1
H0       tidak ada hubungan signifikan antara SQ dan pelayanan yang efektif
H1       ada hubungan yang signifikan antara SQ dan pelayanan yang efektif
Penulis menerima H1,yaitu ada hubungan yang signifikan antara SQ dan pelayanan yang efektif ,karena semakin tinggi SQ pendeta maka keberhasilan pelayanan pun semakin baik .
2.2 Uji Hipotesis 2
H0       tidak ada hubungan yang signifikan antara EQ dan pelayanan yang signifikan
H1       ada hubungan yang signifikan antara EQ dan pelayanan yang signifikan
Penulis menerima H1, yaitu ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi terhadap efektifitas pelayanan. Kecerdasan emosional membuat orang lebih tekun,sabar dan ulet dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal itupun sangat dibutuhkan oleh pendeta untuk pelayanan yang efektif.
2.3 Uji Hipotesis 3
H0 tidak ada hubungan yang signifikan antara IQ dan pelayanan yang signifikan
H1 ada hubungan yang signifikan antara IQ dan pelayanan yang signifikan
H1 diterima karena kecerdasan intelektual sangat mendukung efektiitas pelayanan, kecerdasan intelektual membuat seseorang memahami persoalan numerik,tata bahasa dan yang berkaitan dengan kognitif. Maka H1 diterima.

2.4. Uji Hipotesis 4
H0 tidak ada hubungan yang signifikan antara PQ dan pelayanan yang signifikan
H1 ada hubungan yang signifikan antara PQ dan pelayanan yang signifikan
Kecerdasan fisik mempengaruhi pelayanan yang efektif, misalnya saja,penampilan, bahasa tubuh, dan gerak langkah tubuh ikut membuat penentuan untuk pelayanan yang efektif, maka hipotesis di atas diterima.

2.5. Uji Hipotesis 5

BAB IV
ANALISIS DATA

1. PAPARAN UMUM
Masalah yang dihadapi pendeta memang banyak, tidak hanya datang dari jemaat itu sendiri tetapi juga dari teman sekerjanya, (misalnya teman sekerja pendeta adalah; guru jemaat,sintua,bibelvrou,diakones). Namun dalam kenyataannya,seperti jawaban seorang pendeta GPP, bahwa tantangan terberat seorang pendeta (pelayan gereja) datang dari dalam dirinya. Kemauan dan kemampuan dalam pelayanan adalah kunci utama dalam melakukannya. Kondisi jemaat yang tidak berubah ke perubahan yang positif adalah suasana yang masih didapati selama wawancara ini. Model pelayanan pendeta juga hanya berfokus pada ibadah, tanpa memahami pelayanan konseling (door to door), pelayanan sosial (peduli dengan sesama) adalah faktor penting yang mendukung kesuksesan pelayanan itu sendiri. Kehidupan jemaat adalah gambaran ketidakberhasilan pelayanan, dimana jemaat masih melihat persekutuan sebagai sebuah kebiasaan, melihat perceraian dan kasus kekerasan rumahtangga bukanlah bagian tanggung jawab pelayanan.
Pergeseran nilai-nilai sebagai akibat perubahan pandangan hidup,sikap dan perilaku hidup atas pengaruh kemajuan tekhnologi,secara sistematik terbukti semakin menurunkan (bahkan merusak) derajat moralitas manusia pada umumnya. Hal ini bukanlah semata-mata kesalahan kemajuan teknologi melainkan lebih disebabkan oleh bagaimana cara manusia menyikapi dan memberdayakan kemajuan tekhnologi itu.[4] Ilmu filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan memberi cara-cara berfikir filosofis dan bijak bagaimana menyikapi ilmu pengetahuan, dan sangat dimungkinkan juga untuk ilmu agama menjadi ilmu yang berbahaya jika dogma-dogma agama tidak berbasis filosofis.

2. PAPARAN KHUSUS
Pendeta sering mengeluhkan tingkah laku jemaatnya tanpa intropeksi terhadap kelemahan pelayanan yang dia berikan. Kurang memahami pelayanan yang berbasis filosofis adalah merupakan lupanya pelayan/pendeta akan senjata pelayanan terbaik (yang menurut penulis berbasis IESQ; kombinasi intelectual,emotional, spritual quotient).

3. TEMUAN PENELITIAN

Sesuai dengan hasil wawancara berikut ini maka kemudian kita dapat mengetahui apakah pendeta itu melayani dengan pelayanan berbasis filosofis atau tidak.
* apakah anda berdoa setiap bangun tidur dan sebelum tidur ? (tidak selalu)
* apakah kehidupan berjemaat anda selalu akur dengan sintua dan jemaat? (tidak selalu)
* apakah anda merasa cinta kepada Tuhan dalam hati anda? (ya, selalu)
* manakah yang lebih sering, anda menerima materi atau menyumbang materi? (sama saja)
* berapa orang yang bapak/ibu buat telah bertobat?atau berubah cara hidupnya? (tidak tahu)
* apakah semua manusia itu keluarga anda? (tidak)
* apakah anda menyayangi semua binatang? (tidak)



Menurut penulis jawaban-jawaban yang lebih mengarah kepada jawaban yang bersifat intelektual
tersebut, memberi pemahaman pada penulis bahwa para pelayan gereja belum memahami maksimal atau bahkan tidak memahami sama sekali pelayanan yang bersifat filosofis. Menurut penulis jawaban-jawaban yang lebih mengarah kepada spritual quotient sebagai tingkat tertinggi pelayanan kristen  adalah menjawab pertanyaan lebih banyak dengan jawaban “ya selalu” bahkan lebih mementingkan orang lain, dengan banyak memberi dan pelaksanaan mencintai. Bahkan pendeta tidak mampu melihat perubahan dan pertobatan yang dilakukan oleh jemaat, dan hal itu menggambarkan/menunjukkan bahwa pendeta tidak mempunyai data yang jelas terhadap semua jemaatnya, atau pendeta tidak mempunyai dokumen tentang perilaku moral yang terjadi pada jemaatnya. Semua hal ini mengindikasikan bahwa pelayanan para pendeta yang saya teliti belum atau tidak memahami pelayanan yang berbasis filosofis.

4. PEMBAHASAN

Tidak memahami dan tidak melakukan pelayanan yang berbasis filosofis membuat sebuah pemicu terhadap krisisnya kehidupan berjemaat orang kristen itu sendiri. Bahkan dampak yang terjadi jika kecerdasan spritual tidak mulai diterapkan dan tidak dimulai oleh para pelayan Tuhan (termasuk semua agama) akan membuat seluruh sendi-sendi kehidupan mengalami krisis multidimensi. Adalah suatu bahaya yang besar jika manusia telah didoktrin oleh jaman dengan krisis kepercayaan, krisis kebudayaan, krisis moral dan etika, krisis ekonomi akibat keserakahan, krisis kesehatan akibat tekhnologi, karena pakar ekonomi pembangunan dunia e.f. schumacher akhirnya berkesimpulan bahwa krisis ekonomi, bahan bakar, makanan, lingkungan, maupun krisis kesehatan justeru berangkat dari krisis spiritual.
Sukidi mengutip pendapat  Khalil A. Khavari tentang kecerdasan spritual yaitu  “ spritual Intelligence is the faculty of our non-material dimension- the human soul. It is the diamond-in-the-rough that every one of us has. It must be rocognized for what it is, polished to high luster with great determination and used to capture lasting personal happiness. Like the other two forms of intelligence, spritual inteligence is also subject to enhancement as well as deterioration, except that its capacity to increase seems limitless” (kecerdasan spritual/SQ, adalah fakultas dimensi non-material kita-jiwa manusia. Inilah intan yang belum terasah, yang dimiliki oleh kita semua. Kita harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya sehingga berkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi. Seperti dua bentuk kecerdasan lainnya (maksudnya IQ dan EQ), kecerdasan spritual dapat ditingkatkan dan diturunkan. Kemampuannya untuk ditingkatkan nampaknya tidak terbatas.)[5]  Manusia (pelayan gereja) bisa meraih kecerdasan spritual yang lebih tinggi, jika penghayatan terhadap agama kita lebih menukik ke dalam, ke esensinya, ke spritualitasnya. Spritualitas inilah yang menjadi hatinya agama (sprituality is the heart of the religion), pusat dari agama itu sendiri (the centre of religion).

Pelayanan yang berbasis filososofis adalah penerapan kecerdasan spritual kepada jemaat dan terhadap pelayan itu sendiri, nilai-nilai alkitabiah seperti kejujuran,kebersamaan,kebajikan, kestiakawanan sosial dan lainnya harus diinternalisasikan dalam diri pelayan dan jemaat sejak dini. Semakin kita baik dalam kejujuran dan keteladanan moral,kualitas kecerdasan spritual kita akan semakin baik secara kualitatif.

SQ adalah kecerdasan untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai, kecerdasan untuk memposisikan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menaksir bahwa suatu tindakan atau jalan hidup tertentu lebih bermakna ketimbang yang lain. SQ adalah fondasi yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.  













BAB V
KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Selama pelayanan hanya berbasis kepada penggunaan intelektual dan rasional maka dipastikan hasilnya tidak optimal. Kunci kesuksesan dalam berbagai sendi kehidupan terlebih pelayanan kristiani sangat ditentukan oleh kecerdasan spritual, karena hal ini menyangkut nilai-nilai berharga untuk kehidupan. SQ lebih condong menggunakan hati (love) dalam penyelesaian masalah. SQ adalah tingkatan kecerdasan tertinggi yang tiada batasnya untuk di asah. SQ mampu mengoptimalkan kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual, sehingga ketika ketiga hal itu dikombinasikan melalui diri (tubuh) dalam pelayanan, maka hal itu lah yang bisa kita sebut PELAYANAN YANG BERBASIS FILOSOFIS.


2. IMPLIKASI

Kecerdasan spritual adalah sebuah ilmu pengetahuan yang perlu dibelajarkan,disebarkan baik itu dalam pelayanan kekristenan,keluarga, pendidikan formal, pendidikan nonformal, yang mampu mengatasi krisis multidimensi yang terjadi dalam hampir semua lini kehidupan. Penggunaan kecerdasan spritual akan membawa perubahan positif yang sangat luar biasa. Karena masih banyaknya pelayan dan sesama manusia yang menggunakan kecerdasan intelektualnya dalam menjalani pekerjaan dan hidupnya.


3. SARAN

Kepada para pelayan gereja dan pembaca tulisan ini, mari kita belajar untuk menerapkan Kecerdasan Spritual, mari kita sama-sama mengali lebih dalam lagi tentang kehebatan kecerdasan spritual dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam pola berpikir kita sehari-hari. Yakin saja bahwa kita bisa mengubah dunia dengan kecerdasan spritual kita. Selain kesuksesan yang akan menghampiri kita maka upah di sorga dalam Tuhan Yesus Kristus adalah milik kita.





Daftar Pusataka

Setyosari punaji, Metode Penelitian Pendidikan dan pengembangan, jakarta, kencana prenada group, 2012

Herlianto, Teologi Sukses anatara Allah dan Mamon, jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996

Suhartono Suparlan, Filsafat ilmu pengetahuan,Ar-ruzz media, yogyakarta,2005

Sukidi, Kecerdasan Spritual, Gramedian Pustaka Utama, Jakarta, 2002

Bahan Kuliah ,Filsafat Ilmu, Prof. Dr.B. Manullang, Tarutung, 20012


























































[1]  Sukidi ibid hal 48-49
[2] Belferik manullang, bahan kuliah pasca sarjana, 2012
[3]  Sukidi kecerdasan spritual hal 44-45
[4] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, hal 23
[5] Sukidi ibid hal.77

Tidak ada komentar:

Posting Komentar